Bertemu Sosok Imajiner Commendatore

Ulasan Novel Membunuh Commendatore (Jilid 1) / Killing Commendatore karya Haruki Murakami


BLURB
Ketika menyepi di atas gunung, seorang pelukis muda menemukan adikarya tersembunyi maestro seni lukis gaya Jepang berjudul Membunuh Commendatore. Dari situ ia membuka suatu lingkaran aneka peristiwa misterius yang mengguncangkan dunia tempat ia berpijak. Mampukah ia menutup kembali lingkaran itu?
Ini pedang sungguhan... jika dipakai untuk menebas, darah bisa keluar.


PREVIEW
Berawal dari pertemuan si aku sebagai narator dengan pria tanpa wajah yang menginginkan untuk dilukis potret oleh narator. Sayangnya, narator tidak memiliki kemampuan itu. Meski begitu, ia tahu tentang sebuah lukisan yang berjudul Killing Commendatore, lukisan potret tanpa objek sama sekali. Objek tersebut ada di ide dan imajinasi sang pelukis, Tomohiko Amada. Pelukis zaman PD II yang sempat belajar melukis gaya Jepang di Wina. 

Karena masalah rumah tangganya, narator memilih pergi dari rumah dan tinggal di salah satu rumah kosong dari zaman PD2 milik Tamahiko Amada, lewat anak pelukis tersebut yang juga kenalannya. Di sekitar rumah itu terdapat lubang menyerupai gua yang memiliki misteri dan membangkitkan rasa penasaran narator dan Menshiki. Selama proses perceraian, narator berpacaran dengan istri orang. Selama tinggal di rumah tua itu, narator mengalami pengalaman menarik, terutama dalam berkarya sejak menemukan satu-satunya lukisan Tomohiko Amada di dalam pintu batu di lantai atas. Ruangan itu gelap dan seperti tak pernah dikunjungi. Padahal anaknya Amada pernah berkata bahwa semua lukisan ayahnya diserahkan ke galeri agar lebih aman. Ia tak tahu bahwa masih ada lukisan ayahnya di dalam rumah itu. Lukisan tersebut berjudul Killing Commendatore (Membunuh Commendatore).

Lagi pula, mengapa lukisan ini diberi judul Membunuh Commendatore? Di lukisan ini memang kelihatan orang yang berpangkat tinggi sedang dibunuh dengan pedang. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa sosok lanjut usia yang mengenakan kostum zaman kuno itu pantas disebut "commendatore" jika dilihat dari sudut pandang mana pun. Commendatore jelas merujuk ke pangkat di Eropa pada Abad Pertengahan atau Era Modern awal. Hal.103

Narator mendapat tawaran dari agennya untuk melukis potret dengan bayaran sangat tinggi. Padahal narator sudah tidak ingin melukis potret lagi. Karena bayaran tinggi, ia menerima tawaran tersebut. Klien tersebut adalah Menshiki. Klien tersebut bekerja di dunia internet yang mencari tahu segala misteri yang belum diketahui. Ia bisa menemukan nama narator hanya lewat internet. Padahal narator tidak pernah mengikuti galeri ataupun mengunggah karyanya di internet. 

Pertemuannya dengan Menshiki membawa narator dengan sosok "commendatore" misterius, sosok yang hanya dapat dilihat oleh narator saja. Sosok tersebut adalah idea dari imajinasi. Bisa dibilang sosok tersebut hidup karena imajinasi narator yang menghidupkannya. Sosok itu digambarkan kecil dan berpakaian zaman kuno dengan pedang panjang di pinggangnya, percis yang tergambarkan di lukisan Tomohiko Amada. Ia berbicara dengan sosok itu. Dari situ, narator mulai merasa ada energi baru dalam melukis. Gairahnya terbakar lagi. Meski ia masih melukis potret, tapi tidak dari objek manusia, melainkan dari imajinasinya. Ia menciptakan sosok baru, lelaki paruh baya yang mengendarai Subaru Forester putih. 

"Bukankah sebaiknya membiarkan lukisan itu bercerita," kata Commendatore dengan suara tenang. "Kalau lukisan itu ingin menceritakan sesuatu, biarkanlah lukisan itu bercerita begitu saja. Lebih baik membiarkan metafora tetap metafora, sandi tetap sandi, penyaring tetap penyaring. Ada masalah apa dengan begitu?"
Hal. 454

Bagaimana kelanjutan petualanan narator berikutnya?
Apakah sosok commendatore ini akan menghilang selamanya?
Apakah pria paruh baya akan hidup sebagaimana sosok commendatore?
Apakah narator akan bertemu dengan pria tanpa wajah lagi ke depannya?
Mari temukan di jilid 2. 


REVIEW
Sebenarnya, saya sudah membaca buku ini versi Bahasa Inggrisnya di akhir tahun 2018. Namun, di sini anggap saja saya belum membaca agar dapat seobjektif mungkin dalam mengulas versi terjemahan Bahasa Indonesianya. Mari kita mulai. 

Ini adalah karya pertama Haruki Murakami dengan unsur misteri dan ada ketegangan di dalamnya. 
Dari awal saya merasa tidak asing dengan alurnya, mirip 1Q84 dan Kafka on The Shore. Kemiripan tersebut dibuktikan dengan menjelmanya sosok Commendatore yang secara akal sehat tidak mungkin sosok yang ada di lukisan hidup begitu saja dan berbicara dengan manusia. Bentuknya pun sama sama kecil seperti orang kecil yang ada di 1Q84. Bukti kedua adalah sosok lelaki tanpa wajah yang misteri, sosok aneh yang mirip seperti salah satu karakter di Kafka on The Shore. Di buku ini juga ada bab tersendiri yang membahas Franz Kafka, penulis yang menginspirasi Haruki Murakami dalam menulis Kafka on The Shore

Selain dari buku, Haruki Murakami kerap mendapatkan inspirasi dari lagu maupun hal lain. Kali ini ia mendapatkan inspirasi dari sebuah opera Don Giovanni yang berjudul Kills the Commendatore. Opera tersebut ia sisipkan ke dalam alur cerita diiringi dengan lukisan Tomohiko Amada. Bagaimana jadinya? Sila baca sendiri. 

Sembari memandang lukisan itu, aku berulang-ulang mendengarkan peristiwa itu dalam opera Don Giovanni. Adegan ketiga Babak I tak lama setelah overture. Lirik yang dinyanyikan di adegan itu. Hampir seluruh kata-kata yang diucapkan di situ telah kuhafal bulat-bulat. 

DONNA ANNA 
Oh, pembunuh itulah yang menghabisi Ayahanda.
Darah ini.. luka ini...
Sudah tampak warna kematian di wajahnya
Sudah putus napasnya
Sudah dingin kaki tangannya
Ayahanda, Ayahanda tersayang!
Kesadaranku nyaris melayang
Aku binasa

Hal. 107

Jika sering membaca karya Murakami, sebenarnya kerap menemukan kemiripan antar karyanya. Sebab, di situlah ciri khas Haruki Murakami. 

Alur yang dibangun di buku ini harus melibatkan kekuatan imajinasi kita sebagai pembaca, karena ada sosok imajiner di dalam cerita imajiner. 

Selalu suka dengan terjemahannya Kak Ribeka Ota. Terjemahannya begitu mengalir, meski ada beberapa pemilihan padanan kata yang terkesan dipaksakan dan kurang pas. Tapi, itu hanya sebagian kecil saja. Selebihnya suka. 

⭐⭐⭐⭐

Rose Diana
August Wrap-up

Start Aug 11th, 2021
Finish Aug 31st, 2021

Baca ulasan Jilid 2 di sini
Baca ulasan Killing Commendatore di sini 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Novel Pulang - Tere Liye

Ulasan Novel Hujan - Tere Liye

Ulasan Novel Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990) - Pidi Baiq

Ulasan Novel Hyouka - Yonezawa Honobu

Cara Membuat Lipstik Cair Dari Lipstik Padat (How To Make A Liquid Lipstick From Solid Lipstick)