Postingan

Bertemu Sosok Imajiner Commendatore

Ulasan Novel Membunuh Commendatore (Jilid 1) / Killing Commendatore karya Haruki Murakami BLURB Ketika menyepi di atas gunung, seorang pelukis muda menemukan adikarya tersembunyi maestro seni lukis gaya Jepang berjudul Membunuh Commendatore. Dari situ ia membuka suatu lingkaran aneka peristiwa misterius yang mengguncangkan dunia tempat ia berpijak. Mampukah ia menutup kembali lingkaran itu? Ini pedang sungguhan... jika dipakai untuk menebas, darah bisa keluar. SUMMARY Berawal dari pertemuan si aku sebagai narator dengan pria tanpa wajah yang menginginkan untuk dilukis potret oleh narator. Sayangnya, narator tidak memiliki kemampuan itu. Meski begitu, ia tahu tentang sebuah lukisan yang berjudul Killing Commendatore , lukisan potret tanpa objek sama sekali. Objek tersebut ada di ide dan imajinasi sang pelukis, Tomohiko Amada. Pelukis zaman PD II yang sempat belajar melukis gaya Jepang di Wina.  Karena masalah rumah tangganya, narator memilih pergi dari rumah dan tinggal di salah satu

Perjuangan dan Perasaan Ping

Ulasan Rapijali 2: Menjadi Blurb Jakarta tidak lagi menjadi penjara. Di ibu kota, Ping justru mulai mendapatkan gambaran tentang hidup yang ia inginkan. Ia memiliki sahabat-sahabat baru, impian baru, dan cinta yang baru. Namun, tantangan lebih besar turut menyingsing. Ajang Band Idola Indonesia menuntut Ping bekerja keras, termasuk menciptakan lagu. Band Rapijali yang menjadi sumber kebahagiaannya ikut menerbitkan beragam konflik. Popularitas mereka mulai terasa bagai pisau bermata dua. Berbagai perasaan yang terpendam di antara para personel Rapijali turut membayangi perjalanan terjal mereka sepanjang kompetisi. Cita-cita Ping untuk melanjutkan pendidikan di universitas impian berbenturan dengan kelemahan terbesarnya di bidang musik. Sementara itu, rahasia masa lalu yang mulai terkuak membawa keluarga Guntur ke titik kritis. Mampukah Ping melewati badai itu? Akankah Rapijali bertahan? Di persimpangan hatinya, kepada siapakah Ping menjatuhkan pilihan? Review Sebenarnya, saya sudah me

Perjalanan Eri Asai 23:56 - 06:52

Ulasan After Dark karya Haruki Murakami Blurb The midnight hour approaches in an almost empty all-night diner. Mari sips her coffee and glances up from a book as a young man, a musician, intrudes on her solitude. Both have missed the last train home. Later, Mari is interrupted again by a girl from the Alphaville Hotel; a Chinese prostitute has been hurt by a client, and she needs Mari's help. Meanwhile Mari's beautiful sister Eri sleeps a deep, heavy sleep that is 'to perfect, too pure' to be normal; she has lain asleep for two months. But tonight a the digital clock displays 00:00, a hint of life flickers across the TV screen, though the television's plug has been pulled out. Strange nocturnal happenings, or a trick of the night? Review Eri Asai duduk di Denny's sambil membaca buku. Ia memang sengaja ingin berada di luar rumah, karena sedang ada masalah di rumahnya. Ketika ia sedang menikmati waktu sendirinya, seorang pria, Tetsuya Takahashi menghampirinya dan

First Person Singular Review

Buku Terbaru Haruki Murakami. Buku ini terdiri dari delapan cerpen, yaitu: Cream, One a Stone Pillow, Charlie Parker Plays Bossa Nova, With The Beatles, Confession of a Shinagawa Monkey, Carnaval, The Yakult Swallows Poetry Collection dan First Person Singular.  With The Beatles dan Confessionof a Shinagawa Monkey sudah saya ulas sebelumnya. Sila cek postingan sebelumnya.  Mayoritas buku ini dipaparkan dengan sudut pandang orang pertama dan nostalgia masa mudanya. Beberapa ada pula fiksi seperti Confession of a Shinagawa Monkey dan Charlie Parker Plays Bossa Nova. Baik, saya akan memberitahu secara garis besar masing-masing cerita. Cream menceritakan tentang si aku yang menerima undangan pertunjukkan piano dari seorang gadis yang ia temui dahulu saat sekolah piano. Ada unsur nostalgia di sini.  "After death, everyone will be severely judged for his sins.” One Stone Pillow memiliki unsur erotis yang menceritakan kisah nostalgia saat ia remaja dan bercinta dengan seorang penyair wan

Potongan Ingatan Masa Muda Haruki Murakami

Ulasan Cerita Pendek With The Beatles karya Haruki Murakami. Blurb What I find strange about growing old isn’t that I’ve got older. Not that the youthful me from the past has, without my realizing it, aged. What catches me off guard is, rather, how people from the same generation as me have become elderly, how all the pretty, vivacious girls I used to know are now old enough to have a couple of grandkids. It’s a little disconcerting—sad, even. Though I never feel sad at the fact that I have similarly aged. I think what makes me feel sad about the girls I knew growing old is that it forces me to admit, all over again, that my youthful dreams are gone forever. The death of a dream can be, in a way, sadder than that of a living being. Preview Cerita pendek ini merupakan flashback memori Haruki Murakami saat-saat ia remaja. Masa remajanya yang merupakan masa The Beatles berjaya hingga ke Jepang. Tahun 1964, ia bertemu dengan seorang gadis yang memakai kaus bertuliskan ' With The Beatl

Antara Musik, Cinta dan Politik

Ulasan Novel Rapijali karya Dee Lestari. Blurb Ping merasa telah memiliki segala yang ia butuhkan. Dunianya yang damai di Pantai Batu Karas, rumahnya yang penuh alat musik di tepi Sungai Cijulang, seorang sahabat terbaik, serta kakek yang menyayanginya. Namun, diam-diam Ping menyimpan kegelisahan tentang masa depannya yang buram. Bakat musiknya yang istimewa tidak memiliki wadah, dan ia tidak berani bercita-cita. Hidup Ping jungkir balik ketika ia harus pindah ke Jakarta dan tinggal bersama keluarga calon gubernur. Ping mesti menghadapi sekolah baru, kawan-kawan baru, dan tantangan baru. Mungkinkah ia menemukan apa yang hilang selama ini? Dan, apakah Ping siap dengan yang ia temukan? Bahwa, hidupnya ternyata tidak sesederhana yang ia duga. Review Ini kedua kalinya saya ikut digitribe cerbung karya Maksur Dee Lestari. Sebelumnya Aroma Karsa, kemudian tahun ini Rapijali. Meskipun suasana dan keintimannya berbeda, cerbung ini tetap seru dinikmati di setiap Senin dan Kamis.  Alasan saya su

Pengabdian Guru Matematika

Ulasan Novel Guru Aini karya Andrea Hirata. Blurb “Ini persamaan hidupku sekarang, Bu,” Desi menyodorkan buku catatan ke tengah meja. Bu Amanah, yang juga guru matematika, tersenyum getir melihat persamaan garis lurus dengan variabel-variabel yang didefinisikan sendiri oleh Desi, x1: pendidikan, x2: kecerdasan. Yang menarik perhatiannya adalah konstanta a: pengorbanan. “Pendidikan memerlukan pengorbanan, Bu. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah” Konon, berdasarkan penelitian antah berantah, umumnya idealisme anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi bertahan paling lama 4 bulan. Setelah itu mereka akan menjadi pengeluh, penggerutu, dan penyalah seperti banyak orang lainnya, lalu secara menyedihkan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi lalu tunduk patuh pada sistem yang buruk. Dalam kenyataan hidup seperti itu, seberapa jauh Desi berani mempertahankan idealismenya menjadi guru matematika di sekolah pelosok? Review Ibu Desi merupakan

Kegelapan Dari Dasar Danau Seryeong

Ulasan Novel 7 Tahun Kegelapan (7 Seven Years of Darkness ) Karya Jeong You-Jeong. Blurb Seorang anak perempuan ditemukan tewas di Danau Seryeong, waduk yang terkenal angker di sebuah desa terpencil di Korea. Ayah korban dan dua petugas keamanan waduk masing-masing menyimpan rahasia tentang malam kematian anak itu. Sementara polisi mulai melakukan pengusutan, ketiga pria tersebut juga berusaha menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi tanpa membongkar rahasia gelap mereka sendiri. Setelah bentrokan terjadi di waduk yang mengakibatkan tragedi massal, salah satu petugas keamanan tersebut ditahan atas tuduhan pembunuhan. Selama tahun-tahun berikutnya, Choi Seowon hidup di balik bayang-bayang kejahatan ayahnya yang mengejutkan. Ke mana pun ia pergi, seseorang selalu mencoba menguak identitasnya sebagai anak seorang pembunuh. Ketika suatu hari ia menerima paket yang konon akan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di Danau Seryeong, Seowon menyadari bahwa permainan mengerikan yang dimulai tu

Enam Kasus Kecil Dari Keempat Tokoh.

Ulasan Novel Hyouka 6 : Even Though I'm Told I Now Have Wings karya Yonezawa Honobu. Kalau baca buku Hyouka dari seri 1 sampai 5  pasti kita familier dengan gaya bercerita Oreki, karena pov yang digunakan adalah pov  Oreki. Bahkan di Hyouka 4: The Doll that Took A Detour yang juga sama-sama mencerita beberapa kasus kecil, diceritakan menggunakan pov Oreki. Makanya, di buku Hyouka 6 ini terasa spesial sebab keempat tokoh memiliki peran yang sama. Saya sebagai pembaca menjadi tahu bagaimana jika tiga tokoh ini bercerita.  Seperti pada kasus kedua, Yang Tidak Terpantul di Cermin, yang diceritakan menggunakan pov Ibara, sebenarnya menarik, tapi karena saya kurang suka kebanyakan dialog, jadi sedikit membosankan di awal-awal cerita. Makin ke tengah, saya mulai menikmati.  Pada kasus pertama yang diceritakan dengan pov Oreki tetap menarik, meskipun saya sudah bisa menebak ke mana arah misterinya.  Di buku ini juga menyinggung hubungan Ibara dan Satoshi, dan bagaimana karakter seorang Ch

Berlari Sambil Berpikir Merupakan Hal yang Betolak Belakang dengan Prinsip Hotaro Oreki.

Ulasan Buku Hyouka 5:  Approximating The Distance Between Two People karya Yonezawa Honobu. Blurb: Musim semi telah tiba. Klub Sastra Klasik akhirnya naik ke kelas 2 SMA. Hotaro dan teman-temannya menyambut seorang calon anggota baru kelas 1 Klub Sastra Klasik bernama Ōhinata. Akan tetapi, belum sempat gadis itu menjadi anggota resmi klub, dia tiba-tiba menyatakan mundur dengan alasan yang tidak jelas dan mencurigakan. Bisakah Hotaro menemukan alasan gadis tersebut mundur sebelum tenggat pendaftaran resmi? Sialnya, hari itu adalah hari turnamen marathon, jadi Hotaro harus berpikir sambil berlari, kegiatan yang melawan prinsip hemat energinya.... Review: Beda dengan 4 edisi sebelumnya yang lebih to the point saat Oreki mendeduksi praduganya, di buku ini diceritakan secara runut dari awal peristiwa hingga akhir dengan alur maju-mundur. Baca buku ini saya diajak kembali ke buku What I Talk About When I Talk About Running karya Haruki Murakami. Di sana juga menceritakan bagaimana Murakami