Mengontrol Emosi dengan Ilmu

Ulasan Buku Psychology of Emotion

Blurb

Marah itu melelahkan, membebani emosi dan pikiran kita. Kalau kemarahan tak terkendali, kita bisa melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain, termasuk orang yang kita sayangi.

Psikolog David J. Lieberman membantu kita mengelola kemarahan kita dengan buku superlaris ini. Dijelaskan apa yang terjadi ketika kita marah, bagaiman ego membuat kita marah kepada orang lain, cara meredakan marah, serta cara mencegah kemaraham dengan memperluas sudut pandang. 

"The Psychology of Emotion menunjukkan cara mengubah orientasi sudut pandangmu secara permanen," tegas Lieberman. 'Secara otomatis, itu akan membuat masalah-masalah kecil dalam kehidupan menghilang dari radarmu dan masalah-masalah besar tidak akan pernah lagi menjelma jadi ledakan panas kekesalan atau amarah yang tak terkendali."


Summary

"Jika kita. Tidak mencintai diri sendiri, kesediaan kita untuk menahan rasa sakit sebentar saja demi mendapatkan keuntungan jangka panjang akan memundar." Hal 5


Kesehatan mental dapat dipengaruhi bagaimana kita membuat sudut pandang terhadap suatu masalah. Memiliki sudut pandang yang salah, cenderung memiliki sifat paranoia untuk melindungi diri dari rasa bersalah. Pelaku cenderung mencari kesalahan dan menyalahkan dunia. Ini merupakan salah satu penyakit mental. Orang yang sudah kehilangan kewarasan, kemampuan untuk melihat, menerima dan menanggapi dunianya, artinya ia sudah kehilangan seluruh sudut pandangnya. Menyalahkan dunia adalah caranya untuk menyangkal kesalahan yang diperbuat.


Orang memilih untuk bertanggung jawab atas apapun keputusan yang diambil, maka harga dirinya meningkat dengan menurunkan ego, sehingga membuat sudut pandang yang semakin luas dan realitas tidak terdistorsi, maka ia bisa melihat dan menerima kebenaran meski itu menyakitkan. Ini dapat dikatakan memiliki kesehatan mental yang positif dan bisa bertindak bertanggung jawab.


Salah satu cara dalam cerdas emotional adalah menerima kekurangan di dalam diri, karena kekurangan tersebut tidak bisa dipuaskan dengan sesuatu dari luar. Jika mencari harga diri dari faktor ekstrnal, tidak akan berakhir benar-benar puas, karena akan terus merasa kurang. 


Akibat tidak menyukai diri sendiri dan terus melihat kekurangan diri:

  • Emosi tidak stabil,
  • Mudah marah pada diri sendiri,
  • Melampiaskannya kepada orang terdekat,
  • Melampaui batas,
  • Hasrat bawah sadar negatif, 
  • Harga diri rendah.


Terdapat 4 tahap dalam berduka, yaitu: penyangkalan, amarah, depresi, dan penerimaan. Tiga tahap pertama melibatkan ego. Setelahnya, baru mulai melepaskan diri dari ego dan berusaha menerima. Hanya seseorang dengan harga diri tinggi yang memberi cinta dan rasa hormat secara bertanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain. 


Di zaman teknologi dan sosial media ini, kecanduan sosial media juga dapat memengaruhi emosional kita, yang dikarenakan terstimulasi berlebihan, sehingga menciptakan akibat kecanduan dopamin yang secara langsung memberikan pengaruh kepada otak untuk kehilangan fokus dan selalu mencari rangsangan dari luar. Efek dari hal tersebut adalah ganguan dalam mengontrol emosi, kurangnya konsentrasi, tingginya stress dan gelisah, serta buruk dalam pengambilan keputusan. 


'Menghindar tidak menyelesaikan masalah" hal:54


Ketika kita hidup terlalu nyaman, kita kehilangan kebiasaan untuk berusaha keras, karena terlalu nyaman dengan zona aman. Hal ini dapat memengaruhi emosional. Terkadang kita memerlukan mengaktifkan adrenalin. Adrenalin merupakan hormon stimulan yang secara alami dilepaskan oleh otak untuk menanggapi stress atau kegelisahan ekstrem, bertujuan memberi kewaspadaan dan kekuatan dalam situasi berbahaya atau krisis dan menciptakan semangat, mempertajam indra, dan memberi perasaan kekuasaan dalam memegang kendali.


Orang yang hidupnya selaras dengan jiwanya, maka ia tak membutuhkan amarah untuk membuatnya merasa hidup. 


"Dari kelemahanmu, kekuatanmu akan muncul." (hal.83)


Kebahagiaan dan kesehatan emosional kita dipengaruhi oleh pilihan kita. Tantangan hidup setiap orang berbeda, namun kekuatan pilihan adalah penyeimbang hidup yang hebat.


Jika kita marah kepada Tuhan karena kesalahan dan masalah hidup yang disebabkan oleh diri sendiri, maka kita tidak hidup dalam kebenaran dan akan terus melampiaskan rasa frustasi kita pada diri sendiri dan orang-orang sekeliling kita. Jika kita ingin maju dalam hidup, kita harus mulai belajar menghadapi diri sendiri untuk mencintai dan menerima yang kita lihat, menerima masa lalu dan berani menghadapi masa depan. 


Hipotesis umpan balik ekspresi wajah menyatakan bahwa ekspresi atau prilaku yang tak sejalan memaksa alam bawah sadar untuk mengalibrasi ulang perasaan dan keyakinan kita, untuk merekonsiliasi diri. Juga, membantu meredam kebencian terhadap orang lain. Memaafkan dan meminta maaf sama-sama memberi kebebasan emosional, karena akan timbul rasa nyaman dan tenang setelah melakukannya. Kata maaf juga juga dapat memulihkan keseimbangan dalam sebuah hubungan, baik pribadi maupun profesional. Namun, permintaan maaf yang tidak tulus, tidak akan dipercaya. Jika tidak dipercaya, maka tidak akan dimaafkan. Jika ingin dimaafkan, mungkin terlebih dulu kita harus memafkan orang lain. 


Kalian punya tujuan dalam hidup? Tujuan dalam kehidupan dapat memberikan sudut pandang lebih luas tentang kehidupan dan kematian. 


Biasanya, orang menghadapi konflik dengan salah satu dari lima cara berikut:

  • Menerima konflik, merupakan tanggapan yang paling sehat.Ia menrima situasi yang ada dan tidak marah dan tidak membiarkan emosi mendikte responnya. Ia juga memperkuat keputusannya.
  • Menjauhi konflik, merupakan tanggapan khas pribadi pasif-agresif, mundur untuk menghindari konfrontasi. Orang seperti ini kurang memiliki kepercayaan diri dan keberanian dalam menghadapi situasi.
  • Menyerah atau menekannya, merupakan tanggapan yang mencerminkan kepribadian keset atau penurut. Ia dengan mudah mengaku kalah yang berakibat menekan amarahnya yang dapat membuat emosionalnya tertekan. Meskipun orang seperti ini kerap mengatakan, "Saya ikut kebanyakan orang saja, santai dan tidak kesal.", padahal emosional itu ada dalam dirinya dan dapat menimbulkan masalah fisiologis dan emosional. Perbedaan tipe ini dan pasif-agresif adalah tipe ini merasa tidak harus membela diri, sedang tipe pasif-agresif merasa harus membela diri.
  • Melawan, merupakan tanggapan yang menciptakan konflik langsung yang tidak sehat. Emosinya cenderung bercampur dengan amarah, memilih bertarung langsung tanpa alasan.
  • Menutup diri, merupakan tanggapan yang kerap dilakukan orang tang kondisi emosionalnya sedang rapuh dan sulit, yang mengakibatkan terlalu malas untuk bertindak dalam situasi, yang berakibat menutup diri. 


Kekesalan merupakan amarah masa lalu yang membeku dan terus mengancam. Bagaimana caranya agar lebih percaya diri dan pendapat kita didengar? Caranya adalah menaikan kadar hormon testosteron dan menurunkan kadar hormon kortisol. Dua menit saja dalam pose high-power, pose kekuatan tinggi yang terbuka dan rileks, berdiri dengan dua kaki terbuka, tangan di pinggang, pundak tegak. Melakukan pose ini beberapa kali sehari, bisa meningkatkan kepercayaan diri dalam waktu panjang. Hormon testosteron akan meningkat drastis sebanyak 20% dan hormon kortisol menurun sebanyak 25%. (Riset Harvard University. Hal 169)


"Jika kamu memperlakukan orang lain dengan baik, tak peduli seburuk apa pun dia memperlakukanmu, dia harus mencari tahu mengapa dia kasar dan tidak toleran pada seseorang yang baik dan penuh hormat." Hal 184


Cara untuk melatih otak kita agar tidak mudah dikontrol oleh emosi, yaitu dengan memaksa diri untuk terus bersikap tenang dan netral, serta menunjukan perilaku sebaliknya dengan tersenyum. Ini yang disebut hipotesis umpan balik ekspresi wajah. Melatih mental untuk menanggapi dengan sabar, akan membantu otak untuk berubah dan bisa menambah kemampuan dalam mengendalikan diri, bahkan pada situasi genting sekali pun. Semakin tenang kita dalam situasi biasa, semakin mudah kita mengendalikan amarah pada masa sulit. 


Review

"Semakin banyak 'Aku' yang dibawa ke dalam suatu peristiwa yang tidak menyenangkan, semakin besar rasa sakit yang kita rasakan." Hal 214

Kutipan di atas ada benarnya. Kalau kita terlalu menunjuk diri sendiri, seperti "bagaimana aku, gara-gara aku" dan lain-lain, malah menjadi diri kita dikelilingi aura negatif, sehingga energi negatif itu memengaruhi emosi dan ego kita.

Buku ini menarik untuk dibaca bagi yang emosinya setipis tisu macam saya. Buku ini ditulis langsung oleh seorang psikolog, David J. Lieberman. Saya mendapatkan pandangan baru bahwa percaya diri juga berkaitan dengan emosi dan ego seseorang. Ada kalanya ego diberi makan, dan ada kalanya juga ego tidak dimanja. Saya yang overthingking benar-benar relate dengan isi buku ini. Sangat lelah jika kita dikontrol oleh emosi dan ego. Bagi kalian yang kesabarannya setipis tisu dan mudah meledak, saya rekomendasikan buku ini untuk dibaca. Terjemahan Indonesianya masih aman dan mudah dimengerti, hanya beberapa bagian saja agak rancu. Ada beberapa frasa yang harus dibaca berulang kali agar saya memahami maksud konteksnya. 

⭐️⭐️⭐️⭐️

March read


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Novel Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990) - Pidi Baiq

Ulasan Buku Puisi Cinta Yang Marah – M. Aan Mansyur

Birthday Girl - Haruki Murakami

Cara Membuat Lipstik Cair Dari Lipstik Padat (How To Make A Liquid Lipstick From Solid Lipstick)

Ulasan Buku Biografi Sybil (16 Kepribadian Majemuk) - Patrick Suraci, PH. D