Big Brother is Watching You

 Ulasan Buku 1984 karya George Orwell.

Blurb

Kehidupan di era pemerintahan otoriter membuat Winston Smith kehilangan kewarasannya. Dia tidak memiliki keortodoks-an murni seperti mayoritas rakyat Oseania. Menurutnya, kehidupan di masa itu terasa fana. Semua segi kehidupan dipenuhi dengan dusta bagi kemaslahatan Pemerintahnya. Hal itu diperburuk dengan hiruk pikuk perang yang tak berkesudahan.

Pemerintahan otoriter yang dikuasai oleh si Penguasa Besar itu akan semakin kuat dan tak terkalahkan. Winston terus berandai-andai apakah dia bisa menggulingkan pemerintahan Penguasa Besar. Dalam perjalanannya, dia juga bertemu dengan perempuan bernama Julia, yang ternyata sepemikiran dengannya. Di sisi lain, banyak bukti kebohongan yang diyakini sudah dimiliki Winston, dengan itulah dia berencana untuk menjatuhkan si Penguasa Besar suatu saat nanti. Namun, apakah niat Winston itu akan berhasil atau hanya berakhir sama dengan para mayoritas?


Summary & Review

Ini kedua kalinya baca buku ini karena entah kenapa isinya relate dengan kondisi saat ini. Pertama kali saya baca di tahun 2018 versi Inggris. Kali ini baca versi terjemahan terbitan Penerbit AHI. Terjemahannya enak banget dibaca. Ada beberapa penerbit yang menerjemahkan buku ini. Makanya, ada berbagai terjemahan "Big Brother". Ada yang menerjemahkan Bung Besar, Si Penguasa atau bahkan tetap menggunakan Big Brother. Paling penting intinya sama.

Bayangkan jika kamu hidup di sebuah negara yang setiap gerak-gerik diawasi oleh "Si Penguasa", lewat mata-matanya. Mereka itu bisa pedagang, orang biasa, bahkan anak-anak. Tahu-tahu, kamu ditangkap karena tidak suka dengan kebijakan Si Penguasa, meski opinimu baru ada di pikiran, belum terucap apalagi tertulis. Kamu dianggap "penjahat pikiran" dan pemberontak. Kamu ditangkap, diasingkan lalu "dilenyapkan". Seberapa tertekannya hidup di negara itu. Itulah yang dirasakan Winston. Saking tertekannya, Winston tidak mempercayai siapa pun termasuk Julian. Menariknya, dia tahu O'Brien itu mencurigakan, bukan pendukung Goldstein, tapi dia tetap saja kagum dan cerita isi pikirannya ke O'Brien. Rumit. Saya rasa, Winston hanya butuh teman cerita dan diskusi, dan kebetulan ia menemuka hal itu pada O'Brien. Bahkan tetangganya saja dilaporkan oleh anaknya sendiri yang fanatik pada Si Penguasa.

Jeruk dan Lemon, nyalakan lonceng Santo Klemon
Kau berutang tiga farthing, nyalakan lonceng Santo Martin, kapan kau bayarkan, nyalakan lonceng di Old Bailey.
Saat aku sudah kaya raya, nyalakan lonceng di Shoreditch
Ini lilin untuk menerangi kamarmu, ini pisau untuk memotong kepalamu.

Mereka ingin membuat masyarakat ketakutan

Yang menarik adalah hal yang dibahas di buku ini relate dengan situasi politik saat ini. Pemimpin yang katanya pro rakyat, tapi pada kenyataannya hanya memikirkan kepentingan partainya saja, rakyat kerja diperas keringatnya lebih dari seharusnya dan dibayar murah bahkan dianggap "pengabdian pada penguasa", hal-hal yang mahal dan enak hanya dinikmati oleh pejabat partai dan penguasa. Apalagi di negara Oseania tidak ada oposisi, hanya partai Si Penguasa. Apapun niat dan pemikiran untuk berontak atau pembangkangan terhadap partai, akan ditangkap, disiksa bahkan bisa sampai hukuman mati.

Partai memiliki 2 tujuan:
1. Menaklukan seluruh muka bumi
2. Melenyapkan independen untuk selama-lamanya.

Strategi perang:
Pertempuran -> negosiasi -> pengkhianatan -> perjanjian dengan negara adikuasa lain untuk strategi berikutnya. (Siklus berulang)

4 cara untuk menjatuhkan kekuasaan pemerintah:
1. Ditaklukan pihak luar
2. Kebijakan tidak efisien, rakyat berontak
3. Kelas menengah tidak puas muncul
4. Kelas menengah kehilangan percaya diri dan mulai memerintah.

Siapa sangka seseorang yang dipercaya dan tempat Winston menyalurkan pemikiramnya malah menjerumuskan Winston ke titik paling bawah, ditangkap dan masuk penjara. Entah ini taktik strategi O'Brien dan polisi pikiran atau memang jahat aja OBrien. Pesan yang bisa diambil adalah jangan percayai siapapun. Hahaha. 


⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️

Sept read

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kafe Ajaib di Hokadote, Hokkaido

Ulasan Novel Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990) - Pidi Baiq

Tanya Jawab Antara Filsuf dan Seorang Pemuda

Jenius Bukan Hanya Ada di Dunia Sains

Ulasan Film Dilan 1990