Tanya Jawab Antara Filsuf dan Seorang Pemuda
Sebuah ulasan buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga.
Blurb
Membaca buku ini bisa mengubah hidup anda. jutaan orang sudah menarik manfaat darinya. sekarang giliran anda.
Berani Tidak Disukai, yang sudah terjual lebih dari 3,5 juta eksemplar, mengungkap rahasia mengeluarkan kekuatan terpendam yang memungkinkan Anda meraih kebahagiaan yang hakiki dan menjadi sosok yang Anda idam-idamkan.
Apakah kebahagiaan adalah sesuatu yang Anda pilih? Berani Tidak Disukai menyajikan jawabannya secara sederhana dan langsung. Berdasarkan teori Alfred Adler, satu dari tiga psikolog terkemuka abad kesembilan belas selain Freud dan Jung, buku ini mengikuti percakapan yang menggugah antara seorang filsuf dan seorang pemuda. Dalam lima percakapan yang terjalin, sang filsuf membantu muridnya memahami bagaimana masing-masing dari kita mampu menentukan arah hidup kita, bebas dari belenggu trauma masa lalu dan beban ekspektasi orang lain.
Buku yang kaya kebijaksanaan ini akan memandu Anda memahami konsep memaafkan diri sendiri, mencintai diri, dan menyingkirkan hal-hal yang tidak penting dari pikiran. Cara pikir yang membebaskan ini memungkinkan Anda membangun keberanian untuk mengubah dan mengabaikan batasan yang mungkin Anda berlakukan bagi diri Anda.
SUMMARY
Buku ini berisikan tanya jawab antara filsuf dan seorang pemuda. Saya kira seperti buku self improvement kebanyakan yang berisikan teori yang tumbuh dari pemikiran penulisnya, namun ternyata tidak. Buku ini mengambil cara yang lain untuk menjelaskan dengan tanya jawab seakan saya sebagai pembaca berada di posisi pemuda yang lugu mengartikan kehidupan. Bisa dikatakan buku ini lebih cocok dikatakan buku filsafat, karena benar-benar mencari makna dari kehidupan itu sendiri.
"Dunia ini sederhana dan hidup ini juga sederhana." Hal.xviii
Selain dengan cara berfilsafat, buku ini juga menjelaskan dengan sisi psikologi, dibuktikan dengan penjelasan mengenai teori Adler yang dicetuskan oleh seorang ahli kejiwaan dari Austria, Alfred Adler. Ada beberapa teori psikologi yang populer di masyarakat yaitu teori Freud yang mengatakan bahwa trauma dan masa lalu mempengaruhi kehidupan di masa depan, dengan kata lain terjadi adanya hubungan sebab akibat (aetiologi). Namun, teori Adler tidak sepopuler teori Freud. Kebalikan dari Freud, Adler berteori bahwa masa lalu dan trauma tidak ada, disebut "Teori Individual", yang fokus pada diri sendiri, dengan kata lain menggunakan ilmu teleologi, ilmu yang mempelajari tujuan dari auatu fenomena tertentu daripada hubungan sebab akibat.
Adler berpendapat bahwa kehidupan manusia tidak memiliki hubungan sebab akibat. Semua terjadi karena tujuan dan keputusan.
"Tidak ada pengalaman yang dengan sendirinya menyebabkan keberhasulan atau kegagalan kita." -Adler- hal.13
Bahkan, menurut Adler, amarah termasuk alat/cara untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh, seorang ibu yang marah pada anaknya, seketika nada suaranya akan merendah ketika bicara dengan orang lain, dan kembali meninggikan suaranya ketika melihat dan bicara pada anaknya. Adler percaya bahwa kita tidak bisa dikendalikan oleh emosi dan masa lalu. Cara Adler menanggapi masa lalu dengan cara bagaimana menanggapinya melalui keputusan yang diambil untuk kedepannya, sehingga tidak terikat dengan masa lalu. Berbeda dengan teori freud (aetiologi), masa depan terikat dengan masa lalu. Pernah dengar ungkapan "Apa yang membentuk saya di masa kini karena saya di masa lalu."
Dorongan semangat = keberanian untuk melangkah maju.
Jika kita mempunyai ketidakpercayaan diri, maka rasa itu yang harus kita hadapi dengan cara berani menentukan tujuan. Misalkan, kamu ingin daftar beasiswa tapi kamu insecure dengan kemampuanmu, alhasil kamu tidak akan maju, maka yang harus kamu lakukan adalah melawan insecure kamu sehingga kamu bisa berani mencoba kesempatan itu. Seringkali kita terlalu fokus pada kekurangan diri sampai insecure, sehingga menghalangi langkah kita untuk ke depannya.
Kenapa teori Adler disebut teori individual, karena memang centernya ada pada diri kita, bukan pada sosial.
"Yang bisa dilakukan seorang manusia untuk menyingkirkan masalahnya hanyalah menjalani hidupnya seorang diri di alam semesta ini." -Adler- hal.57
Menurut Adler, hubungan interpersonal adalah penyebab segala persoalan hidup. Saya rasa ada benarnya juga, dalam hubungan sosial dewasa ini, kita kerap lebih peduli dengan tanggapan dan omongan orang lain dan melupakan kepentingan diri sendiri. Karena terpaku dengan tanggapan sosial, akhirnya tanpa sadar kita menciptakan masalah sendiri, yang mungkin seharusnya tidak menjadi masalah jika tanggapan orang lain tersebut tidak diambil pusing. Balik lagi, semua karena manusia adalah makhluk sosial. Kita bisa merasakan kesepian karena adanya orang lain. Jika orang lain itu tidak ada, maka kita tidak akan mengenal istilah kesepian, sehingga hanya dalam konteks sosial seseorang menjadi "individu".
Kenapa kita merasa insecure di lingkungan sosial? Karena ada perasaan inferior. Perasaan inferior ini berkaitan dengan ukuran nilai seseorang terhadap dirinya. Manusia lahir ke dunia sebagai makhluk yang tak berdaya, lalu ia memiliki hasrat universal untuk bisa lepas dari keadaan tak berdaya tersebut dengan cara meraih superioritas. Menurut Adler, meraih superioritas dan merasa inferior dapat memacu kerja keras dan pertumbuhan yang normal dan sehat. Jika seseorang memiliki perasaan inferioritas yang hebat sehingga benar benar takut untuk melangkah, maka ia diserang kompleks inferioritas dan itu sangat fatal karena sudah merusak mental.
"Perasaan inferior yang sehat tidak timbul dari membandingkan diri sendiri dengan orang lain, namun dari membandingkan diri sendiri dengan keadaan diri yang ideal." Hal.84
Jika perasaan inferior bertujuan untuk bersaing dengan orang lain, maka jika kalah dari orang lain, maka akan merasa "ah, saya kalah, atau saya berhasil mengalahkan orang itu." Perasaan demikian disebut kompleks inferioritas dan kompleks superioritas, yang mana menganggap orang lain itu adalah kompetitor dan musuh kita. Sulit untuk bahagia jika membangun kebahagiaannya karena hidup dalam kompetisi dan merasa dunia adalah tempat yang dipenuhi lawan. Jangan pernah menganggap kebahagiaan orang lain sebagai kekalahan, begitupun sebaliknya. Alangkah lebih mereka yang berjuang bersama, kita anggap sebagai kawan seperjuangan daripada sebagai lawan atau kompetitor.
"Teori psikologi Adler adalah teori psikologi yang bertujuan mengubah diri sendiri, bukan mengubah orang lain." Hal 113
Daripada menunggu orang lain atau situasi yang berubah, lebih baik kamu yang lebih dulu ambil langkah maju.
Dalam percintaan pun Adler berpendapat bahwa keduanya harus memperlakukan setara agar tercipta hubungan yang sehat dan bahagia. Setara di sini memiliki peran dan taraf yang sama. Jika ada masalah, jangan lari, harus dihadapi.
Psikologi Adler adalah psikologi keberanian: berani ambil sikap, berani berbeda, berani menghadapi masalah dan berani melawan ketakutan, yang mana semuanya berpusat pada individu alias diri sendiri. Psikologi Adler juga merupakan psikologi manfaat, bagaimana kita sebagai manusia berhak menentukan gaya hidup kita menjadi lebih bermanfaat tanpa merasa inferior di dalam bermasyarakat dan tidak tunduk dengan keinginan sosial, karena merasa semua setara.
"Kita tidak perlu memuaskan ekspetasi orang lain, karena orang lain pun hidup bukan untuk memenuhi ekspetasimu." Hal 135
"Jika engkau tidak menjalani hidup demi dirimu sendiri, siapa yang akan menjalaninya demi dirimu? Tentu saja dirimu sendiri, bukan?" Hal 135
Menarik judul buku ini adalah kita harus memiliki batasan pada hubungan interpersonal. Misalnya, di kantor memiliki tugas masing-masing. Ketika kamu sudah menyelesaikan tugasmu, maka kamu tidak punya kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan orang lain. Jika ada rekan kerjamu yang memintamu untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya, maka di sini kamu harus punya batasan dan jangan merasa inferiritas. Kamu berhak menolak permintaan itu. Pada saat itu bisa saja rekan kerjamu akan merasa sebal denganmu, tapi secara bersamaan hidup terbebas dari tekanan merasa inferioritas. Ini yang disebut batasan. Kita sebagai makhluk sosial perlu adanya batasan agar orang lain tidak semena-mena pada kita. Simpul rumit dalam hubungan interpersonal dapat diuraikan dengan pembagian tugas. Jika ada orang lain yang tidak menyukaimu karena kamu tidak mau melampaui batasan, maka kamu sedang menggunakan kebebasanmu dan hidup dalam kebebasan, tandanya kamu memiliki prinsip.
"Jangan takut tidak disukai." Hal 169
"Keberanian untuk bahagia juga mencakup keberanian untuk tidak disukai." Hal 171
Jika kamu sudah memperoleh keberanian ini, maka hubungan interpersonalmu akan segera berubah menjadi lebih ringan.
Psikologi Adler = teori psikologi individual = individualisme = tidak bisa dibagi = pikiran dan tubuh merupakan satu kesatuan yang utuh.
Dalam teori Adler adalah istilah kamu dan aku yang disebut perasaan sosial = ketertarikan sosial = ketertarikan pada masyarakat = apa yang bisa kuberikan pada orang lain = komitmen pada masyarakat. Teori Adler tidak mengenal hubungan vertikal karena semua harus setara, dengan kata lain Adler hanya mengenal hubungan interpersonal yang horizontal. Setara bukan berarti sama, melainkan semua mempunyai peran dan batasan masing-masing. Maka jika kita bisa membangun hubungan horizontal yang 'setara tapi tak sama', tak akan muncul perasaan kompleks inferioritas.
Proses:
Lakukan pembagian tugas > membangun hubungan horizontal.
Hubungan vertikal akan menciptakan penilaian dan cacian. Sedangkan, hubungan horizontal menciptakan ucapan terima kasih, rasa hormat dan suka cita yang jujur.
Pujian:
- harus beradaptasi dengan penilaian orang lain
- mengerem kebebasan sendiri
Terima kasih:
-ekspresi tulus
- penilaian merasa berkontribusi.
- aku berguna untuk orang lain
- keberanian untuk hidup
- tujuan hidup menjadi jelas.
Ketika kita merasa berguna untuk orang lain, maka di situlah kita merasa diri kita bernilai dan memiliki value diri.
"Kamu harus memulai hubungan horizontal tanpa melihat sikap orang lain kooperatif atau tidak." Adler
Tiga hal yang penting:
1. Penerimaan diri
Menerima "inilah diriku" yang benilai.
2. Keyakinan pada orang lain
Keyakinan tanpa syarat adalah cara untuk memulai hubungan interpersonal menjadi lebih baik dan membangun hubungan horizontal.
3. Kontribusi terhadap orang lain
Aku berguna untuk orang lain.
Kesimpulannya adalah kehidupan seseorang harus ditetapkan oleh individu itu sendiri, bukan karena penilaian sosial, inferioritas, maupun insecure. Selama kita tidak kehilangan kompas hidup, teruslah melangkah menuju arah yang kita tentukan di mana kebahagiaan itu ada. Poin utama "kontribusiku bagi orang lain" maka kau tidak salah arah dan dapat melakukan apa pun yang kau sukai. Tidak perlu bersaing dengan siapa pun, maka kehidupanmu akan jelas.
SANGGAHAN
Ada teori Adler yang saya kurang setuju, yaitu ia mengatakan bahwa orang yang suka membanggakan dirinya sendiri dan memamerkan prestasinya karena ia merasa inferioritas. Padahal menurut saya, hal itu bisa menjadi motivasi untuk orang lain, apalagi di dunia sosial media. Misal saya melihat orang memamerkan prestasinya dapat meraih IPK cumlaude, kalau saya pribadi menjadi termotivasi dan berpikir "jika orang itu bisa, maka saya pun bisa." Tidak semua yang dipamerkan itu berdampak negatif pada sosial. Jika berdampak negatif pada dirimu, bisa jadi salahnya ada pada dirimu sendiri yang merasa inferioritas atau insecure dengan kemampuan diri. Ini salah satu cacat logika pada teori Adler menurut saya.
⭐⭐⭐⭐
Dec read

Komentar
Posting Komentar