Pencarian Arah Minat Butuh Terbawa Hanyut Berulangkali

Dari dulu senang sekolah. Kalau sekolah semangat. Selain ketemu teman-teman, dapat uang jajan juga. Waktu memutuskan sekolah lagi, tidak sedikit yang berkata untuk apa sekolah lagi? Peningkatan ijazah hanya berlaku pada pegawai negeri saja. Bahkan mama saya sendiri pun menanyakan tujuan keputusan saya itu. Dengan santai saya jawab, saya sekolah bukan untuk mengejar ijazah, gelar ataupun angka. Sekolah untuk mencari ilmu. Ijazah, gelar, angka itu bonus dari kerja keras. Sampai pada akhirnya, mama mendukung keputusan saya sekolah.

Waktu saya memutuskan untuk sekolah lagi, saya sempat mengingat perjalanan sekolah saya dan membuat saya merenung. Saya berpikir, ke mana sebenarnya minat saya?

Izinkan saya bercerita sedikit. Alm. Papa sangat cerdas. Beliau menguasai ilmu eksak, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, pandai beladiri dan menggambar serta senang bernyanyi bersama saya. Beliau yang mengajarkan saya not piano (alm nenek pandai bermain piano). Hebatnya lagi, apapun yang dihasilkan dari tangannya menjadi kreatifitas. Itulah alasan saya sangat mengaggumi Beliau. Lelaki pertama saya.

Baiklah, mari balik ke perenungan saya. Sejak kecil, saya menyukai ilmu eksak. Dulu, saya berpikir kecerdasan saya di eksak. Karena itulah sewaktu SD, saya sempat bercita-cita ingin menjadi guru Matematika. Cita-cita tersebut bertahan lama sampai SMP. Sewaktu SMP, Matematika lah pelajaran favorit saya. Pada saat kelulusan, alm Papa yang lulusan Sekolah Analisis Kimia bercerita seberapa menyenangkannya Kimia. Pada akhirnya kelas 1 SMA, cita-cita saya berubah. Saya ingin menjadi analisis kimia. Keren, kan? Itulah pemikiran anak SMA. Sewaktu SMA, Kimia adalah pelajaran favorit saya. Bahkan pada saat UAS praktek (dapat titrasi) karena terlalu bersemangat, saya hampir tertelan HCl saat mengambil larutan tersebut dengan pipet gondok. Usai praktek, saya langsung lari ke kantin untuk beli susu, takut ada yang tertelan.😆

Waktu kelas 1 SMA, di sekolah ada test IQ. Dari hasil tersebut, tertulis bahwa kemapuan tertinggi saya malah bukan di eksak, melainkan di sosial, bahasa dan seni. Test tersebut menunjukkan bahwa saya masuk jurusan IPS. Tapi, nilai rapot mengantarkan saya ke jurusan IPA, seperti harapan orangtua. Sebenarnya, saya sempat tulis jurusan Bahasa juga di pilihan kedua. Hanya saja, peminat kelas Bahasa tidak mencapai untuk satu kelas, akhirnya dibatalkan.

Saat lulus, SMA, siapa yang menyangka kalau saya bisa mendarat menjadi mahasiswa Akuntansi yang notabenenya pelajaran IPS. Dulu, saya benci sekali IPS, karena hafalan. Saya lemah dalam menghafal. Begitu pikiran saya.
Semester awal menjadi mahasiswa Akuntansi, mengubah drastis masa jaya nilai saya selama SD hingga SMA. Bisa dibilang, saya kecelakaan masuk jurusan ini. Bayangkan, debit, kredit, jurnal dan tetekbengek dasar Akuntansi saya tidak tahu, karena tidak pernah belajar Akuntansi sedikit pun di SMA, sebab pejurusan dimulai di kelas dua. Semester awal nilai saya hancur. Sempat mau pindah kuliah, tapi pada saat itu, melihat wajah mama dan mengurungkan niat. Padahal, kalau pindah bisa saja. Saya lihat teman-teman yang sesama dulunya anak IPA yang bisa mendapatkan nilai lebih bagus dari saya. Saya pelajari cara belajarnya. Saya kerja keras untuk menjiwai menjadi anak akuntansi. Semua tekad itu karena mama. Sempat menyerah, tapi setiap ingat mama, saya bangkit lagi. Mengingat, saya sempat berniat tidak mau kuliah, karena sejak Papa pergi, cita-cita itu dikubur begitu saja. Mama yang membangkitkan semangat saya. Paling yang memecut saya saat mama meminta saya kuliah sambil berlinang air mata. Itulah kenapa tujuan saya kuliah waktu itu untuk selesai tepat waktu dan dapat pekerjaan secepat mungkin. Urusan nilai, tidak begitu dipikirkan.
Di semester berikutnya, nilai saya naik tidak begitu signifikan tapi lumayan untuk mengejar ketinggalan. Saya bercerita tentang kegundahan itu kepada kakak tertua saya yang sewaktu itu masih menjadi mahasiswa teknik tingkat akhir yang sudah berkuliah selama enam tahun. Beliau berkata bahwa kuliah itu tidak seperti SD, SMP, SMA yang mengejar nilai. Kuliah itu mengejar kemampuan, karena ketika terjun di dunia kerja, yang diuji bukan nilainya tapi kemampuannya. Kalimat itu yang memacu semangat saya lagi. Sampai pada akhirnya saya lulus dengan IPK sangat memuaskan. Saat itu saya berpikir bahwa kerja keras berbanding lurus dengan pencapaiannya. Sebulan sebelum wisuda, saya sudah dapat pekerjaan di kawasan Kemang. Saat itulah pertama kalinya saya bisa membanggakan orangtua. Tempat kerja saya itu adalah yang pertama kali mengesahkan saya menjadi seorang akuntan dan sangat membekas di ingatan. Selain memiliki rekan kerja dan pekerjaan yang menyenangkan, atasannya juga menyenangkan. Sampai akhirnya di tempat itu pula saya pertama kali menyelesaikan masalah pekerjaan yang rumit. Sekaligus, menampar saya bahwa dunia keuangan itu tidak seindah yang dibayangkan. Banyak juga pahitnya. Jauh sebelum Jayus Tambunan tertangkap, saya sudah tahu betapa kelamnya dunia pajak saat itu. Sekarang kantor pajak sudah sangat baik.

Lima tahun kemudian, saya memutuskan kuliah lagi mengambil jurusan Matematika. Pada saat itu saya berpikir ilmu eksak lah bakat dan minat saya. Ternyata, di semester 1 saya sulit untuk mengikuti pelajarannya. Selain karena kesibukan bekerja juga karena kehebatan eksak saya waktu sekolah dulu sudah memudar. Mungkin juga, ilmu sekarang lebih kompleks ketimbang saat saya sekolah dulu. Saya memutuskan berhenti dan fokus bekerja.

Selama empat tahun kemudian, saya merenung ke arah mana minat saya. Di usia nyaris berkepala tiga saya masih memikirkan arah minat saya.

Saat itu saya menemukan kembali hasil psikotes waktu SMA yang menerangkan bahwa minat saya lebih ke arah sosial, bahasa dan seni seperti yang saya katakan di atas. Saya baca lagi hasil test itu dan berpikir bahwa hasil test ini memang benar. Bukan sekedar angka belaka. Akhirnya, saya memutuskan untuk kuliah ambil jurusan Sastra Inggris. Mama sempat menyarankan untuk melanjutkan Akuntansi lagi, tapi saya sudah tidak berminat lagi dengan akuntansi. Hahaha.

Di semester pertama, masih banyak yang meragukan keputusan saya ini. Tidak masalah buat saya. Saat itu yang saya pikirkan adalah pembuktian ke diri sendiri dan mama bahwa memaksakan keinginan orangtua tanpa mencari tahu arah minat si anak itu tidak benar. Ya, selama ini saya sekolah sesuai dengan kemauan orangtua. Makanya, dari kami bertiga, hanya saya yang dari SD hingga SMA negeri. Kedua kakak saya pesantren.

Semester pertama, saya mendapatkan nilai memuaskan, yang tidak pernah saya dapatkan sewaktu kuliah di jurusan akuntansi. Orang pertama yang saya kasih tahu soal nilai adalah mama. Di situ saya pelan-pelan bilang ke Beliau bahwa minat saya ini. Alasannya, karena setelah sekian lama saya tidak sekolah, tapi masih bisa mengikuti materinya. Setidaknya, tidak kosong seperti ambil jurusan matematika. Saya juga berkata ke Beliau bahwa apa yang dikatakan hasil test itu benar. Test psikologi itu memang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sekarang, saya sangat menikmati perjalanan ini. Membaca buku kuliah tidak lagi berat. Mungkin, karena sudah biasa membaca atau bisa jadi karena saya menikmati proses ini.

Itulah kenapa melakukan hal apapun sesuai dengan minat akan terasa menyenangkan. Saya sudah melalui proses pencarian minat itu and I got it. Setidaknya, proses perenungan saya bertahun-tahun tidak sia-sia. Itulah kenapa saya suka merenung, karena merenung dapat membawa kita untuk mencoba memproyeksikan diri sendiri dan mencari jawaban sendiri.
Nah, itulah cerita saya dalam pencarian arah minat yang bukan perjalanan yang sebentar. Butuh bertahun-tahun tenggelam di dalamnya dan sempat hanyut beberapa kali.

Kini, saya sangat menikmati. Tuhan itu baik. Jalan hidup kita yang atur. Hasil, Tuhan yang atur.

Semangat dan tetap optimis.

rose diana 
ditulis 7 April 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Novel Botchan - Natsume SÔseki

Ulasan Novel Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990) - Pidi Baiq

Ulasan Novel Pulang - Tere Liye

Ulasan Novel Heaven On Earth - Kaka HY

A Story of Two Roses : The Black Arrow - Robert Louis Stevenson