Ulasan buku Mind Reader karya David J. Lieberman.
BLURB
Bosan menebak apa yang benar-benar dipikirkan orang? Cobalah membaca orang dalam semua situasi—bertemu muka, di layar, di tulisan—menggunakan ilmu baru psikolinguistik, dari seorang penulis buku laris versi New York Times yang juga menjadi konsultan bagi FBI, CIA, dan NSA. Apa yang dimaksud bos Anda dalam e-mail-nya? Apakah montir yang memperbaiki kendaraan Anda membesar-besarkan sesuatu? Entah dalam percakapan santai atau perundingan tingkat tinggi, Anda perlu mengerti apa yang tersirat dalam suatu situasi. Namun dengan begitu banyak interaksi di layar—melalui e-mail, teks, atau video—kita kehilangan kemampuan menafsirkan ekspresi dan isyarat. Lagipula, karena banyak orang sekarang memahami arti bahasa tubuh, kita makin sukar mengetahui pemikiran atau niat orang yang sebenarnya. Ahli psikoterapi terkenal David Lieberman, Ph.D., seorang pakar terkemuka dalam deteksi kebohongan yang mengajar di FBI dan lembaga keamanan lain, membawa “membaca orang” ke tingkat baru. Menggunakan riset terbaru psikolinguistik—isyarat di bahasa lisan dan tulis—dia menunjukkan cara menerapkan metode-metode tajamnya di banyak situasi sehari-hari, termasuk: - Mendeteksi pesan di balik kata-kata pasif, deskripsi pribadi atau tak pribadi, dan tingkat rincian. - Mengetahui apakah penjelasan seseorang mengenai suatu kejadian itu jujur atau karangan. - Mencari tahu apakah seorang calon karyawan, match di aplikasi kencan, atau pengasuh anak baru bisa dipercaya atau menyembunyikan sesuatu. Tak ada yang ingin dibodohi. Mindreader akan membantu kita mengetahui siapa yang bisa dipercaya, dan siapa yang mungkin berniat mengakali kita.
SUMMARY
Buku ini dibagi 4 bagian:
Bagian 1: Pengungkapan bawah sadar,
Bagian 2: Detektor kebohongan manusia,
Bagian 3: Membuat potret psikologis,
Bagian 4: Membangun profil psikologis.
Kata ganti mempengaruhi ketulusan seseorang dari sisi linguistik. Perubahan kalimat aktif ke pasif = tidak ada ketulusan, sebab pada kalimat aktif, terdapat subjek sebagai pelaku dalam.situasi tersebut. Posisi subjek di sana menandakan bahwa pembicara mempresentasikan dirinya terhadap ekspresi yang ia tunjukan.
Contoh:
Aku suka sama outfitmu.
Berbeda rasa jika subjek dihilangkan. "Suka deh sama outfitmu."
Dewasa ini, orang sudah banyak yang paham bagaimana berpura-pura tulus atau memiliki wajah yang lain. Namun, menurut David, hal itu bisa diketahui dari sisi psikolingustik, dalam susunan kalimatnya.
Saya memberikan coklat padanya aktif
Coklat diberikan ke dia (subjek menghilang) pasif
Kalimat aktif: subjek lebih interaktif
Kalimat pasif: subjek diberikan pekerjaan oleh pihak lain.
Kata-kata berjarak bisa menandakan mekanisme pertahanan psikologis, disebut jaga jarak (detachment).
Tanggapan A : Saya tahu sifat si bos gimana, tapi saya lupa kalau dia seperti itu.
Tanggapan B: Tahu kan si boss seperti apa?
Si A tahu bahwa sifat orang itu seperti apa yang seharusnya A memahami itu. Sedangkan si B menyangkal bahwa ia mengetahui keadaan tersebut sehingga ia tak mau disalahkan.
Ada 2 kelompok kata:
Kata konten: kata benda, kerja, sifat dsb.
Kata fungsi: kata ganti, kata depan, kata sandang, merupakan perekat dalam tata bahasa yang memberikan kohesi dan kefasihan.
Dalam psikolingustik perbedaan status juga mempengaruhi dalam bertutur kata. Misal, seorang atasan ke karyawannya "Selesaikan pekerjaan ini pada pukul lima sore!" Kalimat perintah.
Namun, jika karyawan yang menanyakan pekerjaan tsb ke atasan akan ditambahkan pelembut agar kalimat yang dituturkan lebih baik ditangkap oleh atasan yang statusnya lebih tinggi, "Apa kita bisa selesaikan pekerjaan ini pada pukul lima?"
Dalam sebuah kekuasaan, orang yang memiliki kekuasaan jarang yang mau mengucapkan maaf dengan subjek 'saya', tapi dengan kalimat tidak terikat.
Contoh: "Maaf terlambat balas email Anda."
Berbeda jika "Saya mohon maaf karena terlambat membalas email Anda."
Perhatikan rasa yang berbeda dari dua tanggapan tersebut.
Menurut ahli psikologi James Pennebaker, penggunaan kata ganti menunjukkan fokus.
Ada perbedaan substansi antara menggunakan "saya mohon maaf" dan yang tidak, di mana penggunaan "saya mohon maaf" subjek mengakui dan mengambil tanggungjawab atas keterlambatan tersebut. Sedangkan, tanpa penggunaan "saya", subjek hanya meminta pengertian kepada orang lain tanpa mengakui keterlambatannya.
Kemampuan kognitif diperlukan dalam keadaan tertekan, terancam dan waspada. Terkadang orang berkomentar secara sarkasme.
Korteks prefrontal (bagian otak yang berpikir) untuk menintegrasikan makna harfiah dengan pesan yang dimaksudkan pengucap. Otak mengaktifkan bagian ini jika terjadi kekhawatiran atau kemarahan.
Amigdala (pusat tanggapan emosi) bagian ini lebih primitif karena waktu tanggapan kita melambat. Perlu mengaktifkan otak lagi untuk berpikir dan mengolah pesan yang masuk.
Orang yang bersatatus rendah, akan menggunakan kata ganti orientasi ke dalam (saya).
Contoh: "Kenapa kamu teriak-teriak?"
"Kenapa kamu teriak-teriak ke saya?"
Penggunaan "saya" menjelaskan tentang kegelisahan dan kemarahannya.
Untuk mendeteksi kegelisahan seseorang, perlu mengamati retraktor linguistik (misal: tapi, walau, namun, biar begitu). Pola bahasa dapat menegaskan tentang kegelisahannya, karena retraktor menunjukkan ketidaktegasan dan perenungan.
"Kemarahan adalah mekanisme pertahanan ego kita terhadap perasaan rentan." Hal.64
Bahasa kemarahan:
♡ Asertif - agresif (lawan)
♡ Pasif - agresif (lawan-lari)
♡ Supresif (lari)
♡ Imobilisasi (diam)
♡ Menyerah (lari)
Dalam interaksi tatap muka, senyum adalah kedok emosi yang paling umum, karena cara terbaik menyembunyikan tampilan marah, jijik, sedih atau takut di wajah bagian bawah. Dengan kata lain,ia tidak ingin perasaannga terungkap, maka ia "tersenyum".
Orang yang bersalah ingin mengganti subjek dan mengakhiri percakapan. Secepat dan sedramatis apa suasana hatinya berubah, menandakan ketidaknyamanan dengan subjek sebelumnya. Sedangkan, orang yang tak bersalah selalu ingin melanjutkan pembicaraan dan pertukaran informasi lebih lanjut.
Akalbudi dan tubuh bekerja sama membentuk apa yang disebut kognisi berwujud, bagaimana kita membawa diri, postur, gestur sehingga tercipta perubahan kognitif dan perilaku.
"Gertakan dalam Seni Berperang: jika mampu, tampillah tak mampu; jika aktif, tampillah tak aktif; jika dekat, tampillah jauh; jika jauh, tampillah dekat. ~ Sun Tzu" hal.91
"Orang yang otentik tak peduli kesan yang didapat dari orang lain terhadap dirinya." Hal. 91
"Gertakan (bluff) terjadi bila seseorang sebenarnya menentang sesuatu tapi dia pura-pura mendukungnya, atau bila mendukung sesuatu, tapi pura-pura menentangnya." Hal.92
"Kita tidak perlu mempromosikan kebenaran, ia bisa berbicara untuk dirinya sendiri." Hal. 94
Orang yang tak bersalah biasanya lebih serius, tak akan menggertak dan jarang menjadi mudah emosional. Sedangkan, orang yang menggertak biasanya bertindak berlebihan, mudah emosional. Kita bisa langsung tahu dari gertakannya tersebut. Pakai penilaian ancaman terkemuka, Gavin de Becker, "Ancaman lebih sering menunjukkan keadaan putus asa, bukan niat."
Seorang pembohong, di awal cerita akan tetap memegang fakta. Di bagian utama cerita, ia sedikit mengotak-atik cerita, namun di cerita yang sulit, ia akan susah untuk membuat kesimpulan secara kognitif, sebab ia tak percaya kesimpulan merupakan faktor penting dalam kejujuran, sehingga ia mengakhiri cerita secepat mungkin. Makanya kenapa hampir semua cerita karangan akan beralhir adegan klimaks dan hanya sedikit menjelaskan apa yang terjadi setelahnya.
"Pembohong kerap fokus pada rincian tak relevan untuk meniru kedalaman dan kekayaan alami yang ditemukan di pernyataan jujur. Ia menambahkan rincian untuk mengalihkan perhatian dari kebenaran." Hal.105
Secara umum, kepribadian lebih dominan cenderung mengalihkan rasa takut dan gelisah menjauhi diri sendiri, sedangkan kepribadian lebih submisif seringkali menginternalisasi dan menyerap rasa takut dan gelisah.
Contoh:
A. "Saya tak bisa buka jendela."
B. "Jendelanya macet."
C. "Jendelanya rusak."
Pernyataan A, terfokus ke dalam, ke diri sendiri dan dianggap kepribadian lebih submisif.
Pernyataan B, berfokus keluar dan mewakili kepribadian dominan.
Keduanya tak menandakan kesehatan emosional baik atau tidak (general) atau gelisah (situation), hanya menedangkan menerima atau mengalihkan tanggung jawab.
Pernyataan C, memberikan banyak petunjuk. Penutur menyimpulkan kesalahan bukan dari dirinya, melainkan memang dari jendelanya yang bermasalah. Hal ini menandakan kesehatan emosional penutur dapat dipertanyakan.
Gangguan Psikologis
♡ Ego Distonik: Dampak keluar. Sikap yang membuat orang jengkel dan tak nyaman.
♡ Ego Sistonik: Dampak ke dalam. Gangguan suasana hati/gangguan afektif, mencakup depresi, bipolar, dan gangguan kecemasan. Cenderung berpikir negatif dan berfokus pada diri sendiri, impulsif, mudah frustasi, reaktif secara emosional sehingga sulit berpikir jernih dan mengatasi stres.
Alur kerusakan kesehatan mental:
Submisif (patuh,bergantung) > gangguan afektif (kecemasan, depresi).
Dominan (bermusuhan, agresif, curiga, kejam, manipulatif) > gangguan kepribadian (narsisme, kecenderungan antisosial).
"Suasana hati adalah bayangan harga diri." Hal.138
Suasana hati buruk + penghargaan diri rendah + status tinggi = orang yang menyebalkan. Hal.139
"Semakin tinggi penghargaan atas diri kita sendiri, makin terdorong untuk bertindak secara tanggung jawab, terlepas apapun suasana hati kita." Hal.140
Bila penghargaan diri menurun, ego naik dan suasana hati jadi lebih berpengaruh ke perilaku kita.
Dalam mengetahui sifat dasar orang, petunjuk linguistik mengenai kepribadian melalui isyarat bahasa sekilas. Dinamika status tinggi dan rendah itu relevan bila ada hierarki kekuasaan yang tetap.
Tanggapan A : Kami tutup kalau hari Minggu.
Tanggapan B: Saya kira kami tutup hari Minggu ini.
Tanggapan B: Maaf, saya kira kami akan tutup hari Minggu ini.
Beberapa petunjuk linguistik itu intuitif. Orang yang ramah menggunakan lebih banyak kata emosi positif (senang, menginspirasi, luar biasa), lebih sedikit kata emosi negatif (benci, jengkel, marah), menghindari topik dan kata-kata gelap atau sensitif.
Orang yang kurang ramah, menggunakan kata negatif dan kemarahan. Berdasarkan penelitian, orang yang lebih ramah lebih sedikit memaki.
"Pujian nyaris merupakan kesehatan batin yang disuarakan" C.S. Lewis
Orang egosentris yang tak punya perspektif, hanya tertarik dengan apa yang tak dimiliki, utang orang kepadanya, kekurangan dalam hidup. Tak memiliki rasa syukur sehingga merasa tak ada kebahagiaan. Hal.149
Perspektif luas (penghargaan diri lebih tinggi, ego lebih kecil) > konteks lebih luas > lebih banyak makna > rendah hati > bersyukur > bahagia > kestabilan emosional.
Perspektif sempit (penghargaan diri lebih rendah, ego lebih besar) > konteks lebih sempit > lebih sedikit makna > tinggi hati > marah, benci, frustrasi > ketidakstabilan emosional.
Dengan kesadaran diri lebih besar, Anda bisa menaikkan kualitas hidup dan hubungan Anda.
Orang cenderung menemukan apa yang dicarinya dan melihat apa yang ingin dilihatnya. Karena selalu mencari bukti yang menunjukkan bahwa kita benar, kita tak melihat bukti yang tak cocok dengan harapan kita. Itu fenomena yang dikenal sebagai bias konfirmasi. Kita mengejar apa yang membenarkan pemikiran kita, dan tanpa sadar menyisihkan yang tak konsisten.
Heuristik adalah kategorisasi/jalan pintas yang dilakukan otak dalam memproses informasi tanpa membuat keputusan independent untuk memilih.
Kewarasan sama artinya dengan perspektif. Makin jernih perspektif kita, makin banyak kenyataan yang kita bolehkan masuk dan makin objektif serta sikap, pemikiran, dan perilaku kita menjadi rasional.
Bila seseorang kehilangan kewarasan-kemampuan melihat, menerima, dan menanggapi dunianya, artinya dia telah kehilangan semua perspektif.
Makin kurang sehat seseorang secara emosional, makin dia menjejel dunia sekelilingnya untuk mengimbangi kekurangannya sendiri dan mengakomodasi ketidaknyamanannya. "Cara orang memperlakukan Anda adalah cerminan kesehatan emosionalnya sendiri." Hal.160
Narasi berbasis ego -> mengarahkan RAS -> menyating melalui heuristik perspektif (apa yang kita lihat dan apa yang kita pikirkan mengenai apa yang kita lihat)
Kita berusaha mengerti diri sendiri dan dunia melalui cerita. Cerita yang memandu kehidupan kita adalah yang menjelaskan "Siapa aku dan mengapa aku begini." Itulah identitas naratif kita, "cerita diri yang berevolusi dan terinternalisasi, dibangun setiap kita untuk memberi rasa tujuan dan keútuhan dalam kehidupan kita."
Ego lebih besar berarti lebih banyak menyalahkan serta lebih sedikit tanggung jawab dan akuntabilitas pribadi. Orang dengan penghargaan diri rendah susah memaafkan atau meminta maaf. Makin besar ego seseorang, makin sukar dia melihat melampaui dirinya sendiri, beserta keinginan dan kebutuhannya. Empati memerlukan pergeseran perspektif, menaruh diri di posisi orang lain.
Menjaga jarak adalah pilihan mekanisme pertahanan yang kuat untuk menghadapi kecemasan yang direndam atau dipendam. Oleh karena otu, orang yang sangat berduka tak menggunakan kata ganti orang pertama saya dan aku. Kesedihan, depresi klinis, menggeser kesadaran kita untuk menjauhi diri sendiri.
Bila orang berbicara atau menulis mengenai diri sendiri, dia biasanya menegaskan satu dari lima hal. Dia berbicara mengenai karakter, hubungan, kepemilikan, atribut fisik atau profesi dan keahlian. Dengan begitu, secara efektif mendeteksi bagaimana dia memandang diri, apa yang dia hargai di dirinya, juga apa yang dia percaya berharga bagi pihak lain.
Ciri-ciri yang kita hargai di diri kita sendiri juga kita hargai di orang lain.
"Sebagaimana orang secara spontan memuji apa aja yang dia hargai.
"Makin rendah penghargaan dirinya dan makin dekat ancaman terjadap citra dirinya, maka makin jelas narasi pribadinya terungkap dan makin jauh ego bergerak aktif melindungi diri." Hal 179
Mengejar tujuan berorientasi ego membuat kita melenceng dari kenyataan.
Sigmund Freud menulis "Mustahil lepas dari kesan bahwa orang biasanya menggunakan standar ukuran palsu bahwa mereka mencari kekuasaan, keberhasilan, dan kekayaan untuk diri sendiri serta mengagumi semua itu di pihak lain, dan bahwa mereka meremehkan apa yang benar- benar bernilai dalam kehidupan."
Kata Abraham Maslow, berencana menjadi sesuatu yang di bawah kemampuan Anda, Anda mungkin akan tak bahagia dan marah sepanjang hidup."
Pengejaran makna memberi kita kenikmatan maksimum, syaratnya pengendalian diri.
Mencintai diri sendiri = berinvestasi kepuasan dan kesejahteraan jangka panjang maksimum dan minim rasa sakit/kecewa.
Dengan atau tanpa gangguan kepribadian orang yang menderita gangguan afektif lebih rawan mengalami kehancuran diri melalui berbagai hal. Dia menghukum diri sendiri dengan cara yang berkedok kenikmatan, seperti makan berlebihan. Dia ingin mencintai diri sendiri, tapi justru kehilangan diri.
Salah satu pemicu terpenting kegagalan pengendalian diri yang membuat kita hilang kendali dan menyerah kepada impuls adalah kemarahan. Rasa bersalah adalah suatu kekuatan negatif yang membebani kita, sehingga rentan menyakiti diri sendiri yang dimotivasi oleh alam bawah sadar.
Seseorang mengidap satu gangguan kepribadian, dia berkemungkinan mengidap satu lagi gangguan kepribadian tambahan, juga memungkinkan peningkatan kecemasan dan depresi.
Perspektif kita ditunjukkan dengan cara kita menata pengalaman kita mellui tema kontaminasi atau penebusan. Penebusan berko- relasi dengan kesejahteraan emosional lebih besar sedang kontaminasi berkorelasi dengan kesehatan mental lebih buruk."
Narasi kontaminasi adalah narasi di mana "segalanya runtuh" karena X dan yang positif pasti digantikan yang negatif, lalu runtuh atau rusak tanpa bisa dikembalikan ke keadaan semula
"Gelisah terus menerus menandakan ketidaksehatan emosional. Bagi orang yang tak sehat secara emosional, tiap hal kecil terasa besar."
Penggunaan bahasa kasar adalah ciri absolutisme. Pola bahasa seseorang mengungkapkan kepribadiannya. Penggunaan kata seruan mirip penggunaan absolutis karena biasanya berfungsi sebagai penguat.
Bila pola bahasa dibangun di atas egosentrisitas akan tercipta perspektif sempit dan penghargaan diri rendah.
1. Tingkat Hakim
Jika seseorang memiliki sudut pandang hakim, dia akan memproyeksikan perspektifnya sebagai kenyataan objektif. Pernyataan hakim tidak mencerminkan kesukaan dan ketidaksukaan yang diterima secara umum dan universal. Misal, "Semua orang suka cuaca hangat." Padahal tidak semua orang menyukainya. Opininya menandakan ia memaksakan orang lain untuk menerima opininya.
2. Hakim dan Juri
Pelencengan perspektif terjadi jika seseorang menjadi hakim dan juri, memvonis lalh memberi cap moral mengenai kebaikan atau keburukan seseorang, tempat, pemikiran. Misal, " Siapa pun yang suka cuaca panas itu gila."
3. Hakim, Juri dan Algojo
Orang yang memiliki sifat seperti ini menyerukan pembalasan atau penegak keadilan terhadap pihak yang tak memandang dunia seperti dia atau menentang keinginan dan harapannya. Misal, "Siapa pun yang suka cuaca hangat itu gila dan sebaiknya jangan ditemani."
Apa pun yang dianggap adalah dirinya sendiri. Jika kamu tak menyukai apa yang dia sukai, artinya kamu tak menyukainya.
"Kita semua memiliki titik buta, area kehidupan di mana kita tak melihat apa yang jelas dilihat pihak lain." Hal 212
Percaya diri adalah perasaan mengenai seefektif apa kita dalam area atau situasi tertentu. Penghargaan diri adalah pengakuan bahwa kita dicintai, bisa dicintai dan layak mendapat hal-hal baik dalam kehidupan. Orang yang sehat secara emosional memiliki penghargaan diri tapi tak merasa yakin dengan kenyataannya.
Ego besar berasal dari penghargaan diri amat tinggi dari rasa benci diri sendiri. Ego dan penghargaan diri berbanding terbalik. Tak peduli sebahagia apa orang itu dengan dirinya, jika egosentris, dia merasa rendah diri. Ego adalah diri yang palsu dan hanya ada untuk kompensasi rasa bersalah atau rendah diri.
Kesombongan adalah pewujudan ego yang menggunakan sikap, keprcayaan dan nilai-nilai untuk menompang citra diri yang goyang. Keangkuhan adalah bukti penghargaan diri yang rendah. Orang sombong tak pernah merasa utuh. Dia budak nafsu sendiri. Rendah hati memungkinkan kita mengendalikan diri, kunci utama kesehatan psikologis. Mentalitas sombong melihat kenaikan kelayakan diri, artinya apa yang kutambah ke diri sendiri agar aku lebih bernilai." Angkuh di permukaan tapi rapuh di dalam. Sesukses apa pun, takkan pernah merasa puas.
Narsisme
Narsisisme sebenarnya lahir dari kebencian ekstrem terhadap diri sendiri, Tokoh mitologi Narkissos adalah sumber istilah narsisime didefinisikan sebagai ketertarikan terhadap diri sendiri dan tampilan fisik atau persepsi publik atas diri.
Analisis atas tanda-tanda linguistik narsisisme menunjukkan asal-usul patologinya dan menggambarkan cirinya. Salah satu hal yang berkorelasi terkuat dengan narsisisme adalah kecenderungan menggunakan kata-kata kotor.
Orang narsis memiliki reaktivitas fisiologis lebih tinggi terhadap kesukaran emosional, sangat rentan terhadap frustrasi sehari- hari, memiliki lebih banyak dua penanda biologis stres-kortisol dan alfa-amilase--terhadap tanggapan pengalaman emosi negatif. Sederhananya: orang narsis lebih cepat panas.
Ego punya dua tujuan: menghindari membuka diri, yang diperlukan untuk hubungan dan memaksa hubungan melalui kendali. Jika tak ada diri yang bebas dan independen, maka takkan bisa ada hubungan dengan siapa pun. Makin sedikit kendali diri kita, makin berusaha mati-matian memanipulasi kejadian dan orang di sekeliling, terutama yang terdekat, baik secara terang-terangan maupun pasif agresif.
Alfred Adler, " Kompleks inferioritas menjelaskan bahwa upaya jiwa mengatasi kegelisahan sering membentuk keseluruhan kehidupan kita."
Patologi kepribadian ambang (borderline) berupa kebutuhan ditenangkan terus-menerus, karena sangat takut ditinggal.
Sistem saraf otonom psikopat tersusun secara berbeda. Sedangkan sosiopat dianggap pengondisian, meski kondisinya boleh jadi punya komponen genetis. Sosiopat tak terlahir sebagai sosiopat. Keduanya digolongkan secara klinis sebagai gangguan kepribadian antisosial.
Sosiopat tidak memiliki nurani (tidak terlahir sosiopat). Pilihan individu untuk menjadi sosiopat. Dia menghindari topik yang dapat kehilangan kendali, karena dia sangat cerdas dan berfungsi tinggi.
Ciri-ciri sosiopat diagnostik:
▪︎ Pesona luar
▪︎ tidak ada rasa bersalah
▪︎ tidak malu
▪︎ berbohong
▪︎ manipulatif
▪︎ pandai menyembunyikan perasaan.
Tujuan sosiopat adalah menggoyahkan rasa aman dalam diri Anda dan di hubungan kita dengan dia. Gaslighting adalah taktik yang biasa digunakan pengidap gangguan kepribadian, dan bisa terjadi dalam hubungan pribadi maupun profesional, melalui manipulasi, pengalihan perhatian, dan agresi.
Psikopat > kelainan genetik pada sistem saraf. Psikopat kurang cerdas dan kurang bisa menyesuaikan diri pada tantangan hidup.
"Komedi adalah tragedi ditambah waktu." Mark Twain.
Mentalitas egosentris adalah sombong dan sok berani. Dia ditelan rasa sakitnya sendiri, penuh. rasa kasihan kepada diri sendri. Lingkaran memberi dan menerima adalah persatuan yang sempurna. Bagian-bagian otak tertentu menunjukkan kenaikan aktivitas bila seseorang memberi. Memberi benar-benar membuat otak jadi tergugah.
"Kecerdasan adalah kemampuan belajar dari kesalahan sendiri." Hal.245
"Kebijaksanaan adalah kemampuan belajar dari kesalahan orang lain." Ha.245
Penggunaan kata-kata absolutis adalah tanda lebih bagus untuk gangguan emosi, dibanding kata-kata ganti atau emosi negatif.
Pada hubungan akalbudi dan tubuh, gangguan psikologis biasanya punya gejala psikologis (akalbudi dan emosi) dan somatik (biologis dan fisiologis). Pengidap gangguan emosional rentan menderita lebih banyak sakit fisik karena berbagai alasan.
Kecemasan terus-menerus menyebabkan pengeluaran endorfin. Endorfin adalah morfin dari dalam tubuh yang dihasilkan untuk mengatur ras sakit dengan cara mengurangi jumlah transmitter sakit yang diserap saraf di otak.
Dari neurosis, kecemasan, rasa tak aman, ketakutan tak rasional. Gangguan neurotik ini menonjol bisa berwujud gangguan afektif/kepribadian. Gangguan tersebut akan berdampak pada psikosis karena terjadi keterputusan dengan kenyataan.
Takhayul adalah bentuk psikosis ringan, hasrat melihat hubungan yang tak benar-benar ada. Takhayul bangkit ketika hubungan antara sebab dan akibat tak jelas.
Pakar analisis ancaman terkemuka Gavin de Becker menciptakan skala empat poin JACA, yang merupakan singkatan empat unsur utamanya, untuk menilai kemungkinan suatu ancaman benar-benar dilaksanakan:
▪︎ Justification (Pembenaran): Pertama kita mempertimbangkan apakah orang itu mungkin merasa dibenarkan bila menggunakan kekerasan untuk menvebabkan rasa sakit, kerusakan, atau kematian.
▪︎ Alternatives (Alternatif): Kemudian kita lihat apa orang itu merasa punya alternatif selain kekerasan untuk mencapai tujuannya. Jika kekerasan tampak sebagai satu-satunya jalan, dia akan mengevaluasi konsekuensi.
▪︎ Consequence (Konsekuensi): Dia menilai kemungkinan akibat penggunaan kekerasan dan menimbang apakah akibatnya: cedera, mati, dipenjara-layak.
▪︎ Ability (Kemampuan): Rencana dia balas dendam bisa tetap berupa fantasi atau berubah menjadi kenyataan mengerikan, tergantung apakah dia merasa punya sarana dan kemampuan untuk melaksanakannya. Jika dia percaya dia punya, dia kemungkinan akan melaksanakan rencana itu.
REVIEW
"Bila orang berbicara, dengarkan sepenuhnya." Ernesr Hemingway.
Kesimpulannya, buku ini memaparkan bagaimana komunikasi seseorang dapat terpengaruh dari psikologis, kognitif dan value pada dirinya sendiri. Semua itu bisa terlihat dari pemilihan kata yang digunakan seseorang dalam berkomunikasi. Makin kurang sehat seseorang secara emosional, makin dia menjejel dunia sekelilingnya untuk mengimbangi kekurangannya sendiri dan mengakomodasi ketidaknyamanannya. "Cara orang memperlakukan Anda adalah cerminan kesehatan emosionalnya sendiri." Bahkan dalam pemilihan subjek pun dapat membaca karakter manusia. Pembahasan buku ini sangat ringan dan mudah dipahami, pun terjemahan yang baik, meski ada beberapa yang saya temukan agak rancu setelah saya lihat versi bahasa Inggrisnya. So far, buku ini sangat menarik dan saya rekomendasi untuk dibaca.
Komentar
Posting Komentar