Ulasan Novel Norwegian Wood - Haruki Murakami

 

Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Tahun Terbit (Indonesia): Agustus 2017 (Pertama kali di Indonesia Juli 2005)
Cetakan ke: ke sembilan
Bahasa: Indonesia
Tebal: 423 + iv halaman
ISBN: 9786026208941

BLURB

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa—hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.


RINGKASAN ISI

“Ingatan merupakan sesuatu yang aneh.” (hal.3)

Novel ini menceritakan kehidupan Toru Watanabe berusia tiga puluh tujuh tahun yang tengah mendengarkan lagu Norwegian Wood ketika perjalanan menuju Jerman. Dia terkenang masa remaja. Kehidupan yang kelam namun tidak membosankan karena bertemu teman-teman dan mengalami ketertarikan satu sama lain dengan mereka yang memiliki karakter berbeda. Mereka mewakili karakter remaja di Jepang, mulai dari yang depresi, datar, ceria, sampai yang kesepian. Watanabe sendiri memiliki karakter suka sekali membaca buku dan mendengarkan musik. Dia menyukai Naoko namun ketika di Tokyo, dia sempat memiliki ketertarikan dengan gadis lain. 

“Mustahil seseorang dapat melindungi yang lain untuk selamanya.” (hal.8)

Kizuki, kawan se-SMA yang merupakan pacar Naoko sewaktu SMA yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di dalam mobil.
Naoko adalah sahabat Watanabe waktu SMA. Dia sempat berpacaran dengan Kizuki. Kepergian Kizuki sangat membuat Naoko terpukul. Lulus SMA, Naoko berpisah dengan Watanabe yang kuliah di Tokyo. Akhir pekan, mereka bertemu dan membicarakan banyak hal. Mereka saling menyukai. 

“Kenangan tidak sempurna itu, yang sudah memudar dan sekarang pun sedikit demi sedkit terus memudar, kusimpan di hati dan aku terus menuliskan kalimat-kalimat ini dengan perasaan seolah menggerogoti tulang.” (hal.11) 

Kopasgat, begitu Watanabe menyebutnya. Kawan satu kamar di asrama ketika kuliah di universitas swasta di Tokyo. Kopasgat merupakan lelaki yang sangat teratur namun bicaranya tidak seteratur hidupnya. Dia sangat mencintai barang-barang pribadinya. Caranya bicara sedikit gagap.

Nagasawa, lelaki yang punya sifat kontradiktif dalam dirinya. Dia ditakuti sekampus bahkan senior pun karena dia mampu menelan tiga lintah hidup-hidup. Selain itu, lelaki ini suka sekali menyewa gadis hingga tujuh puluh kali lebih hanya untuk ditiduri. Lelaki ini juga memberi pengaruh buruk untuk Watanabe. 

“Kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain.” (hal. 45)

Midori, gadis banyak tanya, senang bicara dan ceria yang dikenalinya ketika satu kelas Sejarah Drama II. Siapa sangkan, pertemuan kedua kali di kantin berujung hubungan yang sangat akrab. Banyak waktu yang dihabiskan Watanabe dan Midori membahas apapun, dari tentang sekolah SMA-nya yang dia benci, buku hingga musik. Midori merupakan lulusan SMA perempuan yang sangat elit.

“Tidak ada orang yang suka kesendirian. Hanya saja aku tidak memaksakan diri mendapatkan teman. Kalau memaksakan diri yang didapat hanya kekecewaan.” (hal. 76)

Singkat cerita, Watanabe menyukai Naoko semenjak Kizuki meninggal. Naoko merasa depresi sepeninggal Kizuki dan kepergian Watanabe ke Tokyo. Naoko merasa kesepian dan depresi. Tanpa sepengetahuan Naoko, Watanabe meniduri wanita lain karena ajakan Nagasawa. Hubungan Watanabe dengan Midori yang terlalu dekat pun menimbulkan rasa suka di antara mereka.  

Naoko mengalami gangguan kejiwaan. Dengan susah payah, dia memulihkan kejiwaannya meskipun keputusannya lebih memilih kematian. Sepeninggalnya Naoko, Watanabe sulit untuk melupakan wanita itu. Kehadiran Reiko-san dengan memakai pakaian Naoko, setidaknya mengobati kerinduan Watanabe terhadap Naoko. 

“Dalam kondisi tanpa harapan sedikit pun, pasti di situ ada jalan keluarnya. Jika di sekitar kita gelap gulita, tak ada cara lain kecuali menunggu sejenak agar mata kita terbiasa dengan kegelapan itu.” (hal. 376)

ULASAN

Norwegian Wood seperti lagu The Beatles dengan judul yang sama di album Rubber Soul. Penulis menyajikan kehidupan remaja di Jepang tahun enam puluhan.

Novel ini bukanlah novel sastra yang sulit untuk dipahami. Terjemahannya pun baik sehingga pembaca mengerti. Kita ketahui bahwa tata bahasa Jepang dengan Indonesia itu berbeda. 

Nampaknya penulis sangat menyukai lagu Peter, Paul & Mery, terlihat dari beberapa lagu mereka yang disebutkan di dalamnya, yaitu Puff The Magic Dragon, 500 Miles dan Where’s Have All The Flowers Gone. Selain itu, ada pula lagu Lemon Tree (Fool’s Garder) yang saya suka sekali. Sebelumnya, saya pernah mendengar lagu ini dari koleksi lagu milik Papa. Ada juga lagu dari Bacharach, Stevie Wonder, Bob Dylan dan The Beatles dari Hey Jude, Yesterday, I love Her, dll. 

Saat bagian Midori menceritakan sekolahnya yang serba elit, membuat saya teringat kembali filem Jepang yang berjudul Ouran. Hehe. 

Tokoh yang saya suka adalah Midori. Suka dengan karkaternya yang cerewet, ceria dan banyak tahu tentang musik. Sedangkan tokoh yang saya tidak suka adalah Watanabe. Ya, tokoh utamanya. Saya merasa dia sudah seperti lelaki bajingan yang mendekati perempuan mana saja. Padahal ada Naoko yang setia padanya. Sedangkan dia menyukai Midori. Entahlah, saya sangat membenci Watanabe.

Secara alur, nampaknya style sastra Jepang memang suka sekali bertele-tele. Beberapa kali saya membaca novel Jepang dengan hal yang sama. 

Pada bagian pergaulan bebas, seharusnya bisa diceritakan tidak terlalu mendetail sebab pasti membuat beberapa pembaca tidak nyaman. Pada bagian itu pun kekecewaan saya muncul sehingga saya lewati begitu saja. Padahal pembukaan novel ini sudah menarik ketertarikan saya dengan cara menulis Haruki Murakami. Cuma karena bagian itu, ketertarikan saya luruh begitu saja. Tadinya sudah malas untuk meneruskan baca, karena sudah kepalang memulai baca, mau tidak mau harus saya selesaikan dengan menaruh harapan ada hal yang bisa menarik ketertarikan saya lagi. Setidaknya saya menemukan lagu Lemon Tree, The Beatless, Stevie Wonder yang bisa mengurangi kekecewaan saya.

Ketika saya memutuskan beli novel ini, sempat membaca ulasan beberapa pembaca yang mengatakan novel ini bagus dan mendengarkan lagu Norwegian Wood yang katanya menginspirasi penulis. Dari lagu itu saya mengira novel ini menceritakan tentang keseluruhan hubungan Watanabe dan Naoko. Namun, penulis lebih banyak menceritakan tentang teman-teman Watanabe. Bisa dibilang lebih detail daripada Naoko. 

Untuk novel ini saya kasih 7/10, tiga poin untuk kekecewaan saya.

Rose Diana
111217
21.30


Berikut beberapa lagu yang disebutkan di dalam novel ini. Ini hanya beberapa. Kalau semuanya, bisa panjang. Hehehe. Selamat mendengarkan dan membaca ulasan ini serta novelnya.

Norwegian Wood - The Beatles


Lemon Tree - Fool's Garden


Puff The Magic Dragon - Peter, Paul & Mary

Yesterday - The Beatles

Hey Jude - The Beatles

I Love Her - The Beatles

I Just Called to Say I Love You - Stevie Wonder
(judul ini tidak disebutkan di dalam novel, hanya Stevie Wonder saja. Ini lagu kesukaan saya dari Stevie Wonder selain Mama)

Make You Feel My Love  - Bob Dylan
(judul ini tidak disebutkan di dalam novel, hanya Bob Dylan saja. Ini salah satu lagu kesukaan saya dari Bob Dylan. Pasti tahunya ini lagu Adele, ya? Hehe)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Lipstik Cair Dari Lipstik Padat (How To Make A Liquid Lipstick From Solid Lipstick)

Ulasan Novel Pulang - Tere Liye

Ulasan Novel Hyouka - Yonezawa Honobu

Ulasan Novel Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990) - Pidi Baiq

Drama Serial Caution, Hazardous Wife (Okusama wa, Tori Atsukai Chui / Wife, Handle with Care)