Si Sabar & Si Ujian

​Di suatu persimpangan bertemu Si Sabar dan Si Ujian, lalu mereka bercengkrama merehatkan sejenak di bawah pepohonan rindang. Mereka duduk di atas dedaunan kering menikmati angin membelai lembut. Berbicaralah Si Ujian memulai pembicaraan, “Mengapa wajahmu lesu seperti itu?” tanyanya pada Si Sabar. 
“Aku lelah. Setiap kau datang, selalu aku yang disebut setiap orang. Seolah hanya aku yang mampu menghadapimu,” jawab Si Sabar lirih. 
“Kau selalu merasa paling menyedihkan. Kau tahu tidak, bagaimana perasaanku? Setiap kedatanganku, mereka selalu sedih, menangis. Apakah aku selalu mendatangkan air mata? Padahal aku berasal dari Tuhan. Tuhan yang mengirimku.” Kini Si Ujian yang lesu. 
“Tetapi kedatanganmu membuat mereka naik tingkat jika mampu menghadapimu. Bukankah Tuhan mengirimmu karena Tuhan menyayangi mereka? Kau ada untuk menguji mereka.” Si Sabar mencoba menghibur Si Ujian. 
“Kau pun. Bukankah keberadaanmu di sisi mereka dapat menjadi kekuatan untuk menghadapiku? Kau begitu mulia. Bahkan, mereka yang mampu memeliharamu akan terus kuat dan mampu menghadapiku meski aku datang berkali-kali dan bersama rombonganku. Kau ada untuk mendampingi mereka.” Si Ujian berbalik menghibur Si Sabar. 
Keduanya saling tersenyum dan bersandar pada pohon dengan daun yang lebat. Membiarkan Sang Bayu membelai, menyapa dan memeluk mereka.
Rose Diana
Bekasi, 8 September 2016
19.05

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Lipstik Cair Dari Lipstik Padat (How To Make A Liquid Lipstick From Solid Lipstick)

Ulasan Novel Pulang - Tere Liye

Ulasan Novel Hyouka - Yonezawa Honobu

Ulasan Novel Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990) - Pidi Baiq

Drama Serial Caution, Hazardous Wife (Okusama wa, Tori Atsukai Chui / Wife, Handle with Care)