Cappucinno dan Dia
Secangkir cappucinno tersaji di depanku seraya menatap kaca yang mulai berembun. Hujan sedari siang membuat langit enggan menyampaikan senyuman untukku yang sudah mulai lelah dengan rutinitas. Apalagi kalau sudah memikirkan tentangnya. Rasanya lelahku semakin menjadi seakan bom waktu yang siap meledak. Aku menyukai lelaki itu namun dia bukan milikku. Bisa jadi dia tidak mengenalku. Aku menyukainya dari jauh. Dia satu kantor denganku namun beda bagian. Si kapnya yang kalem membuat hati ini ingin mendekatinya, tapi aku cuma perempuan yang bisa diam dan memendam perasaan ini. Akhir-akhir ini aku mulai gelisah ketika mendengar kabar tentangnya dari teman satu bagian. Lelaki itu telah melamar seorang perempuan. 'Beruntungnya perempuan itu,' gumamku. Tanpa sadar aku menghela napas berulangkali setiap mengingat kejadian itu. Kesal, kecewa dan sedih bersatu jadi satu, kini telah berhasil membuatku sulit bernapas. Kini hanya secangkir ca...