Aku Rindu Pinjam Buku di Perpustakaan

Siang-siang menjelang sore kepikiran sesuatu. Saya baru ngeh kalau di Jakarta, Bekasi dan sekitarnya belum ada perpustakaan publik (gratis) yang membolehkan pinjam buku lebih dari lima buku setiap kali peminjaman. Bahkan Perpusnas sendiri belum membolehkan anggotanya untuk meminjam buku. Bukan, ini bukan kesalahan dari perpustakaannya tapi kesalahan dari diri kita sendiri. 

Sebelum saya sanggup membeli buku, saya masih rutin pinjam buku. Dulu, waktu saya masih sekolah (di pedesaan) ada perpustakaan milik kelurahan, dekat rumah yang masih buka (sekarang sudah tutup). Kadang-kadang kalau tidak lagi main, sepulang sekolah saya baca buku di sana. Waktu SMA perpustakaan yang masih ada hanya perpustakaan kota. Saat itu peminjaman dibatasi maksimal 2 buku untuk 2 minggu. Di era sekarang, di Ibu Kota khususnya, belum pernah sekalipun saya pinjam buku. Sekalinya mau pinjam, tidak diperbolehkan. 

Saya berpikir, apa masalahnya sampai tidak diperbolehkan? 
Mengulang kembali memori lampau, saya baru sadar bahwa kebanyakan orang Indonesia masih minim tanggung jawab terhadap barang orang lain. Mungkin kalau barang milik sendiri, lain lagi ceritanya. Jangankan di era sekarang, di era saya sekolah pun tanggung jawab untuk mengembalikan buku masih kurang. Bahkan lewat dari batas waktu. Si peminjam berpikir daripada membayar denda, lebih baik tidak usah dikembalikan. Miris memang, tapi ya begitu adanya. Sedangkan orang yang ingin membaca buku tersebut sudah antri. 
Kalau sudah begini,  pihak perpustakaan bisa apa? Membeli kembali buku yang tidak dikembalikan? Sedangkan beli buku itu pakai uang. Syukur-syukur perpustakaan tidak menarik uang pinjaman kepada peminjam. Kalau begitu, uang pengadaan dari mana? 

Kasus lain adalah buku rusak. Buku terlipat dikit ujungnya bukan masalah besar. Bagaimana kalau robek, basah, atau kotor sampai memudarkan isi buku? Jika kita jadi peminjam setelahnya, bagaimana kalau membaca buku dalam keadaan seperti itu? Bahkan pernah saya temukan hilang pada halaman tertentu. Ada bekas robek di dalamnya. Saya tak habis pikir. Mau tak mau pihak perpustakaan melakukan perbaikan dan perawatan. Hal itu pakai uang, sedangkan tak ada iuran yang ditarik dari peminjam alias gratis. 

Menurut saya menjadi peminjam yang bertanggung jawab itu tak sulit. Cukup amanah dan menjaga barang yang kita pinjam selayaknya milik pribadi. Kembalikan sesuai waktunya dan lakukan proses peminjaman kembali. 

Kalau sudah begini, orang yang tak mampu membeli buku jadi sulit meminjam buku yang ingin dibacanya dan ujung-ujungnya mencari ebook bajakan. 

Saya rasa, hal ini merupakan siklus yang saling berkesinambungan. Semua permasalahan ada di dalam diri kita. Di luar negeri, satu orang bisa meminjam buku berapapun. 

Pasti di antara kalian ada yang berkata, "saya tanggung jawab, kok." 
Iya, bukan kamu tapi yang merasa saja. 

Salam,

rose diana

Ditulis saat langit sudah mulai mendung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Lipstik Cair Dari Lipstik Padat (How To Make A Liquid Lipstick From Solid Lipstick)

Ulasan Novel Pulang - Tere Liye

Ulasan Novel Hyouka - Yonezawa Honobu

Ulasan Novel Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990) - Pidi Baiq

Drama Serial Caution, Hazardous Wife (Okusama wa, Tori Atsukai Chui / Wife, Handle with Care)