Ulasan Memoirs of A Geisha - Arthur Golden


Judul : Memoirs of A Geisha
Penulis : Arthur Golden
Penerbit : GPU
Tahun Terbit (Indonesia) : Pertama kali tahun 2002
Cetakan ke : -
Bahasa : Indonesia
Tebal : 496 halaman
ISBN : 9786020337692

BLURB

Memoar Seorang Geisha mengajak kita memasuki dunia geisha yang penuh rahasia, dunia di mana penampilan sangatlah penting; di mana keperawanan seorang gadis dilelang kepada penawar yang paling tinggi; dimana perempuan-perempuan dilatih untuk memikat laki-laki yang paling berkuasa; dan di mana cinta dicemooh sebagai ilusi belaka. 
Kisah Sayuri bermula di desa nelayan miskin pada tahun 1929, ketika sebagai anak perempuan berusia sembilan tahun, dengan mata biru kelabu yang luar biasa, dia dijual ke sebuah rumah geisha terkenal. Tidak tahan dengan kehidupan di rumah itu, dia mencoba melarikan diri. Tindakan itu membuat dia terancam menjadi pelayan seumur hidup. Saat meratapi nasibnya di tepi Sungai Shirakawa, dia bertemu Iwamura Ken. Di luar kebiasaan, pria terhormat ini mendekati dan menghiburnya. Saat itu Sayuri bertekad akan menjadi geisha, hanya demi mendapat kesempatan bisa bertemu lagi dengan pria itu, suatu hari nanti. 
Melalui Sayuri, kita menyaksikan suka duka wanita yang mempelajari seni geisha yang berat; menari dan menyanyi; memakai kimono, makeup tebal, dan dandanan rambut yang rumit; menuang sake dengan cara sesensual mungkin; bersaing dengan sesama geisha memperebutkan pria-pria dan kekayaan mereka. Namun ketika Perang Dunia II meletus, dan rumah-rumah geisha terpaksa tertutup, Sayuri, dengan sedikit uang, dan lebih sedikit lagi makanan, harus mulai lagi dari awal untuk menemukan kebebasan yang langka dengan cara-caranya sendiri.

RINGKASAN ISI

Buku ini menceritakan tentang seorang anak bernama Chiyo yang berasal dari kampung nelayan kecil dan miskin bernama Yoroido. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya dan kakak perempuan yang bernama Satsu. Namun karena kondisinya miskin dan kedua orangtuanya semakin tua, ayahnya menjual Chiyo dan Satsu ke seseorang untuk dibawa ke Kyoto di distrik Gion. Di sana Chiyo terpisah dengan kakaknya. Chiyo tinggal di Okiya milik Ibu Nitta. Sekian tahun, Chiyo hanya sebagai pesuruh di sana. Chiyo seringkali dibuat kesal oleh Hatsumomo, geisha terkenal sedistrik Gion. Namun karena Hatsumomo-lah Chiyo bisa bertemu Mameha-geisha terkenal yang merupakan saingan Hatsumomo. Selain itu Ketua juga memberitahu Mameha bahwa ada gadis yang memiliki mata indah berwarna cermin (abu-abu samar) di okiya Nitta. 
Karena Chiyo menanggung hutang yang banyak di Okiya Nitta dikarenakan dari kecerobohannya, di sini Mameha mengeluarkan Chiyo dari tekanan di okiya Nitta. Mameha bertaruh dengan Ibu Nitta untuk menjadikan Chiyo sebagai geisha sebenarnya. 
Dengan sabar, Mameha merawat Chiyo dan mengajarinya untuk menjadi geisha. Dari menari, berjalan, menuangkan teh, bersikap, tersenyum, dan lain-lain. Saat itu Chiyo berganti nama menjadi Sayuri. Bahkan Mameha pula yang memperkenalkan Chiyo kepada pelanggannya di awal debutnya sebagai geisha. Ternyata mata yang dimiliki Chiyo membawa keberuntungan. Perlahan, Sayuri mampu menyaingi Hatsumomo dan menjadi pewaris okiya Nitta.
Namun, saat perang dunia ke dua, distrik Gion ditutup. Sayuri dan Mameha dikirim Ketua ke pabrik tekstil hingga perang berakhir. Ketika perang berakhir, kondisi Jepang mulai tenang meskipun sangat memprihatinkan akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. 
Di akhir cerita, Sayuri menjadi simpanan Ketua, lelaki yang menjadi cinta pertamanya meskipun terpaut usia yang sangat jauh. Mereka hidup bersama. 
ULASAN

Novel ini adalah karya pertama Arthur Golden. Pernah difilemkan pada tahun 2005 dengan bahasa Inggris dan Jepang. Buku ini memberikan penerangan kepada orang awam yang menganggap negatif terhadap geisha. Memoirs of A Geisha, awalnya saya mengira adalah kisah nyata seorang Sayuri. Ternyata hanyalah tokoh rekaan namun penulis memaparkan secara terang kehidupan geisha yang sebenarnya pada zaman itu. Hal ini berdasarkan riset penulis dalam sejarah budaya Jepang, sehingga penulis mendapatkan gelar MA dalam bidang sejarah Jepang pada tahun 1980. 
Arthur berhasil mengajak pembaca berkenalan dengan Kyoto yang sangat jelas. Bahkan buku ini pun menjelaskan bagaimana seorang geisha berlatih dan belajar sampai bisa menjadi geisha sebenarnya. Bukanlah hal yang mudah menjalani kehidupan seperti itu. Apalagi cara kehidupannya berbeda dengan kehidupan kita sebelumnya. 
Seperti kata Mameha dalam buku ini bahwa geisha bukanlah seorang pelacur tapi seniman. 
Memang zaman dulu geisha adalah seorang seniman. Saya setuju. Sebab menjadi geisha bukan hanya sekedar bermodalan kecantikan saja, melainkan mampu menguasai segala hal. Bahkan tidur pun tidak bisa sembarangan. Dari memainkan shamisen, menari, bernyanyi bahkan sampai upacara menyeduh teh yang sangat fenomenal di negeri Sakura. Saya jadi mengerti kenapa setiap upacara teh membutuhkan waktu dan penuh penghayatan. Dan hal itu diajarkan di sekolah geisha.
Bayaran seorang geisha memang mahal karena sekolah mereka pun juga mahal. Selain itu, kimono yang mereka kenakan tidaklah murah. Kimono juga mempengaruhi penampilan dan harga seorang geisha. Geisha tidak menikah. Jika dia akan menikah, harus berhenti menjadi geisha. 
Mungkin di zaman modern seperti ini, geisha sudah mulai sedikit peminatnya. Sebab, untuk bertemu seorang geisha tidaklah uang sedikit. Mungkin karena itu kini sudah mulai berkurang. Bagaimana pun juga mereka ada karena budaya. 

Sekian resensi dari saya. Buku ini saya rekomendasi untuk dibaca. 
Sekian dan terima kasih.

Rose Diana
271017
22.05

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Lipstik Cair Dari Lipstik Padat (How To Make A Liquid Lipstick From Solid Lipstick)

Ulasan Novel Pulang - Tere Liye

Ulasan Novel Hyouka - Yonezawa Honobu

Drama Serial Caution, Hazardous Wife (Okusama wa, Tori Atsukai Chui / Wife, Handle with Care)